POJOK
Jangan Berduka
Oleh Mustaqiem Eska
“Seperti daun kering yang gugur di musim kemarau, kita tidak sedang dihukum, -justru- sedang diberi ruang bagi tunas-tunas muda untuk tumbuh saat hujan kembali menyapa.”
(pdlFile.com) Ada masa di mana kita merasa dunia mendadak menjadi begitu sempit. Sebuah impian yang runtuh, hubungan yang kandas, atau kesempatan yang lewat begitu saja sering kali menyisakan rongga hampa di dalam dada. Kita berdiri di depan pintu yang baru saja tertutup rapat, mengepalkan tangan, lalu meratapi jalurnya yang kini terkunci. Di saat-saat seperti itu, duka terasa begitu pekat, seolah-olah apa yang pergi membawa serta seluruh masa depan kita.
Namun, jika kita bersedia menepi sejenak dari bisingnya penyesalan, kita akan menyadari satu hukum alam yang sangat bersahaja, bahwa tidak ada ruang yang benar-benar kosong di semesta ini.
Jangan berduka secara berlebihan atas apa pun yang hilang darimu. Kehilangan, pada hakikatnya, bukanlah tanda akhir dari segalanya, melainkan cara takdir mengosongkan jemari kita agar siap menggenggam sesuatu yang baru. Seperti daun kering yang gugur di musim kemarau, kita tidak sedang dihukum, -justru- sedang diberi ruang bagi tunas-tunas muda untuk tumbuh saat hujan kembali menyapa.
Apa yang lepas dari genggaman sering kali kembali lagi dalam wujud yang sama sekali tidak kita duga. Boleh jadi ia tidak datang dalam bentuk yang persis sama, melainkan hadir sebagai ketabahan yang lebih kokoh, pemikiran yang lebih matang, atau pintu-pintu kesempatan lain yang jauh lebih lapang. Sebuah pintu yang terkunci rapat di depan mata sering kali hanyalah petunjuk tersirat agar kita bersedia membalikkan badan, berjalan beberapa langkah, dan menemukan bahwa di dinding sebelah sana ada pintu lain yang sedang terkuak lebar.
Kedewasaan jiwa diuji dari cara kita memandang pintu yang tertutup itu. Sering kali kita terlalu lama meratapi kayu yang terkunci hingga kita lupa melihat jendela yang terbuka di sisi lain. Padahal, setiap hal yang hilang selalu meninggalkan Pelajaran. Dan pelajaran itulah yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih tangguh untuk memasuki ruangan-ruangan baru dalam hidup.
Maka, bilamana hari ini ada sesuatu yang merenggut senyummu atau mematahkan harapanmu, senyumlah secara perlahan. Lepaskan apa yang memang harus pergi dengan keikhlasan yang tulus. Percayalah, apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu, dan apa yang melewatkanmu memang tidak pernah ditakdirkan untukmu.
Tetaplah melangkah dengan prasangka yang baik. Sebab di balik setiap kehilangan yang membuat mata berkaca-kaca, selalu ada janji sunyi dari semest, bahwa akan selalu ada pintu lain yang terbuka, dan apa yang pergi akan kembali—dalam wujud yang jauh lebih indah dari yang pernah kamu bayangkan. Yang pasti, tetap bersama-Nya, semua jalan kelapangan akan terbuka. (Timika,14102026)

