Kepingan Puzzle Kehidupan

blank

POJOK

 

Kepingan Puzzle Kehidupan

​Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Kepingan kegagalan dan duka sesungguhnya diciptakan bukan untuk merusak hidupmu, melainkan untuk memberi kontras agar kepingan kebahagiaanmu nantinya terasa jauh lebih bernilai dan indah.”

 

 

​(pdlFile.com) Jika kita diberi kotak permainan puzzle gambar pemandangan, hal pertama yang kita lakukan biasanya adalah melihat gambar utuh di sampul kotaknya. Dari situ kita tahu mana kepingan biru buat langit, mana hijau buat dedaunan, dan mana warna gelap buat batu karang.

​Tapi masalahnya, di panggung kehidupan yang nyata, Allah memberi kita jutaan kepingan hari tanpa pernah memperlihatkan cetakan gambar utuhnya terlebih dahulu.

​Kita dipaksa menyusun kepingan demi kepingan ‘perjalanan’ dalam keadaan buta arah. Hari ini kita dapat kepingan kebahagiaan yang warnanya cerah, besok kita dapat kepingan kegagalan yang warnanya suram dan bentuknya melengkung aneh.

​

Kepingan Gelap yang Sering Kita Benci

​Sebagian besar dari kita mengidap kebiasaan yang sama, bahwa kita hanya mau menerima kepingan-kepingan hidup yang warnanya indah.

​Ketika dapat kepingan berupa keberhasilan, pujian, atau rezeki lancar, kita simpan baik-baik di atas meja batin. Tapi tatkala takdir menyodorkan kepingan berupa kehilangan, patah hati, keputusan salah, atau penderitaan yang perih, kita lekas menggerutu. Kita merasa kepingan itu adalah “produk gagal” yang merusak keindahan hidup kita, lalu membuat status, “Kenapa kepingan pahit ini harus ada di kotakku?”

​Padahal, coba perhatikan cara kerja puzzle dengan nalar yang utuh.

​Gambar pemandangan yang indah tidak pernah hanya diisi oleh warna putih atau merah yang menyala. Gambar itu butuh warna hitam untuk bayangan, warna abu-abu untuk mendung, dan warna cokelat keruh untuk tanah lumpur. Tanpa kepingan-kepingan gelap itu, gambar pemandangannya tidak akan pernah punya kedalaman dan karakter.

​Begitu juga dengan jiwa manusia. Kepingan kegagalan dan duka sesungguhnya diciptakan bukan untuk merusak hidupmu, melainkan untuk memberi kontras agar kepingan kebahagiaanmu nantinya terasa jauh lebih bernilai dan indah. Ya, jangan dipaksa kalau belum pas.

​Kesalahan kedua yang sering bikin batin kita capek adalah suka memaksakan kepingan takdir. ​Saat kita ‘ngebet’ suatu impian segera terwujud—entah itu urusan karir, jodoh, atau cita-cita—kita sering memaksakan satu kepingan peristiwa untuk masuk ke dalam susunan hari ini. Padahal, lekukan dan waktunya belum pas. Akibatnya? Kepingan puzzle-nya emosi, robek, dan batin kita sendiri yang akhirnya lecet dan stres.

​Dalam tatanan hikmah spiritual, menyusun puzzle kehidupan itu butuh dua instrumen utama, yakni ketelitian ikhtiar dan kesabaran penyerahan diri (tawakal). Dan tugas kita, mencocokkan kepingan yang ada di tangan hari ini sebaik mungkin. Jalani tugasmu hari ini dengan jujur, tekun, dan tanpa banyak mengeluh. Dan Allah Ta’ala akan menyediakan kepingan berikutnya pada saat yang paling tepat. ​Jika ada kepingan yang rasanya belum cocok dipasang hari ini, simpan dulu dengan manis di dalam dada. Jangan dipukul, jangan dipaksa. Nanti, di titik waktu yang pas, engkau bakal tersenyum sendiri saat sadar kalau kepingan yang dulu kamu benci itu ternyata pas banget buat mengunci keindahan gambar hidupmu di masa depan.

​

Gambar Utuh di Garis Finish

​Nanti, tatkala seluruh helai napas kita sudah selesai dan kita berdiri di hadapan Sang Maha Pencipta, barulah sampul gambar utuh itu dibuka di depan mata kita. ​Di momen itulah kita baru akan terperangah dan menangis haru. Kita bakal sadar bahwa ternyata tidak ada satu pun kepingan peristiwa yang sia-sia.

​Kecewa yang dulu bikin kamu menangis ternyata menjadi penyambung untuk kepingan ketabahan. ​Pintu yang dulu tertutup rapat ternyata sengaja dikunci supaya kamu melangkah ke kepingan pintu lain yang jauh lebih luas dan berkah.

​Maka, tak perlu panik kalau hari ini gambaran hidup masih kelihatan acak-acakan dan belum berbentuk. Tetaplah menyusun dengan hati yang tenang, sapalah setiap kepingan pahit dengan husnudzon, dan percayalah penuh bahwa Allah, Sang Maha Arsitek tidak pernah salah merancang akhir yang indah untuk setiap hamba yang sabar tetap lurus pada jalan-Nya. (Timika, 18102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *