POJOK
Mengunjungi Hari Esok
Oleh : Mustaqiem Eska
“Melihat lubang sebelum terjatuh itu perlu.”
(pdlFile.com) Sekali-kali, coba kita peerhatikan detik jam di dinding, rasakan keceatan detaknya, maka akan teratur dan begitu sama ; enam puluh detik per menit. Tidak ada satu pun manusia yang sanggup menarik jarum jam secara paksa agar esok hari datang lebih cepat, atau menahan matahari agar tidak lekas tenggelam di ufuk barat.
Namun, di dalam laboratorium spiritual dan hikmah kehidupan, ada sebuah ikhtiar batin yang sangat taktis dan elok yakni teknik mempercepat waktu.
Ini bukan cerita fiksi ilmiah tentang mesin waktu atau sulap magis. “Mempercepat waktu” adalah sebuah seni afirmasi sekaligus muhasabah—sebuah cara meloncat ke masa depan di dalam pikiran, agar kita bisa melihat potensi bahaya dan risiko sebelum hal itu benar-benar mendarat menghantam hidup kita.
Mengunjungi Hari Esok di Dalam Kepala
Bagaimana caranya mempercepat waktu?
Caranya adalah dengan duduk hening sejenak, lalu menarik masa depan ke dalam dada hari ini. Kita membayangkan diri kita sudah berada di titik tujuan—satu tahun, lima tahun, atau bahkan sepuluh tahun dari sekarang—lalu melongok kembali ke belakang untuk membedah perjalanan yang telah dilalui.
Dalam dunia manajemen modern, teknik ini sering disebut pre-mortem atau simulasi risiko. Tapi dalam tatanan spiritual, ini adalah bentuk muhasabah Upaya “Waltandzur nafsum maa qoddamat lighot – … dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Qs. Al-Hasr : 18).”
Melihat lubang sebelum terjatuh itu perlu. Ya, saat hendak mengambil keputusan besar—entah itu urusan bisnis, hubungan, maupun pekerjaan—bayangkan situasi terburuk yang bisa terjadi di masa depan. Jika proyek ini gagal di tahun depan, apa penyebab utamanya? Jika hubungan ini retak di kemudian hari, karena kesalahan apa yang kita pelihara hari ini?
Dengan “melompati waktu”, kita bisa melihat celah-celah kerapuhan diri kita hari ini. Kita jadi tahu bagian mana dari niat kita yang masih salah arah, persiapannya yang masih asal-asalan, atau kesombongan mana yang belum dibersihkan.
Banyak orang terjebak pada afirmasi yang dangkal. Biasanya cuma membayangkan yang indah-indah, yang sukses-sukses, lalu merasa semuanya akan baik-baik saja secara ajaib. Itu bukan afirmasi, tapi “jebakan batman”.
Afirmasi spiritual yang sejati justru lahir dari kemampuan mempercepat waktu untuk menyiapkan mental dan ikhtiar. Ketika kita sudah mempercepat waktu dan melihat betapa terjalnya tanjakan di depan, kita tidak lagi gegabah.
Kita mulai memperbaiki langkah hari ini dengan cara, memperbaiki kualitas ikhtiar dan pengujian detailnya. Menyiapkan “rem emergency” berupa cadangan sabar dan rencana cadangan. Meluruskan kembali niat agar tidak mengandalkan kehebatan diri sendiri, melainkan bertumpu penuh pada perlindungan Ilahi, dan yang terpenting selalu menyadari bahwa kelak akan menghadap Allah Ta’ala.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berpesan amat mendalam: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Ini adalah puncak dari seni mempercepat waktu. Kita membawa raga dan batin kita melompati seluruh usia, berdiri di hadapan pengadilan Ilahi, lalu menatap kembali lembaran hidup yang sedang kita tulis hari ini.
Saat kita membayangkan hari tua atau momen perpisahan dengan dunia, seluruh ego yang kita pelihara hari ini mendadak terasa kerdil dan tidak penting. Amarah yang meledak-ledak, kebencian yang dipelihara, dan cemas berlebihan atas urusan rezeki mendadak menguap begitu saja.
Menjalani Hari Ini dengan Lebih Bijak
Mempercepat waktu bukan berarti kita tidak menikmati hari ini. Justru sebaliknya! Ketika kita sudah “pergi ke masa depan” dan memitigasi seluruh risiko buruknya dari sekarang, kita bisa kembali menghirup napas hari ini dengan jauh lebih tenang, leluasa, dan bijaksana.
Langkah kita jadi lebih presisi. Bicara kita jadi lebih tertata. Dan hati kita jadi lebih pasrah, sebab kita tahu bahwa setiap kemungkinan risiko sudah kita petakan lewat ikhtiar terbaik, sementara hasil akhirnya telah kita titipkan aman di dalam genggaman Rabbull Izzaty. (Timika, 17102026)