POJOK
Kurikulum Nekad
Oleh : Mustaqiem Eska
“Terkadang, satu-satunya cara keluar dari ruangan yang menyesakkan adalah dengan menabrak dinding ketakutanmu sendiri. Keluar lewat pintu depan, bukan lewat jendela keputusasaan.”
(pdlFile.com) Di ruangan seminar yang ber-AC dingin, di balik tumpukan buku tebal, atau di grup-grup diskusi yang isinya debat kusir, manusia seringkali merasa dirinya paling selesai. Kita lihai membuat strategi canggih, menghitung resiko sampai koma di belakang angka, dan menyusun rencana hidup yang kelihatan sempurna di atas kertas. Tapi begitu rencana itu harus dibenturkan sama kenyataan hidup yang keras, mendadak semuanya mandek.
Kenapa? Karena banyak orang terjebak jadi jagoan teori tapi penakut di lapangan. Mereka menunggu lampu lalu lintas berubah hijau sempurna, menunggu cuaca benar-benar bersahabat tanpa angin, atau menunggu restu dari sekampung orang baru mau gerak. Padahal, hidup itu tidak pernah lurus layaknya proposal. Jangan sampai ide cemerlang hanya jadi ‘hantu’ di kepala.
Lantas, mungkinkah perlu pemahaman kaidah nekad? Tenang dulu, istilah “nekad” di sini bukan berarti orang ngawur yang asal terjun jurang tanpa parasut, ya. Yang kita maksud adalah kenekadan batin (al-jura’ah)—sebuah keberanian mental buat dobrak tekanan hidup atau keluar dari zona nyaman demi mengejar cita-cita besar.
Banyak orang ingin berubah. Sudah pPunya konsep usaha bagus, tapi takut rugi duluan sebelum jualan. Mau hijrah dari lingkungan yang toxic, tapi takut diomongin tetangga. Mau nulis buku atau bikin karya keren, tapi keburu ciut duluan sama bisikan: “Ah, emangnya kamu bisa?”
Kalau harus menunggu rasa takut itu hilang seratus persen sebelum melangkah, sampai lebaran monyet juga tidak bakal ke mana-mana. Rasa takut itu tidak akan pernah hilang sendiri, dia baru akan lari tunggang langgang begitu kamu memulai melangkah walau lututmu gemetar.
Secara hikmah, kenekadan yang terarah itu adalah bentuk tertinggi dari tawakal.
Nabi Ibrahim dipaksa masuk ke “kurikulum nekad” pas harus meninggalkan keluarganya di lembah tandus Makkah. Nabi Musa pernah nekad saat memukulkan tongkatnya ke laut merah—di mana jalan keluar baru kelihatan setelah kakinya melangkah mendekati air.
Tuhan tidak pernah menurunkan ‘keajaiban’ ke orang yang hanya duduk manis membuat strategi di atas kertas. Mukjizat dan pertolongan Allah untuk Nabi-Nya selalu datang menyusul di tengah ayunan langkah ikhtiar.
Mengapa terkadang harus nekad? Sebab nekad mengajarkan bahwa keraguan paling ampuh dilawan bukan dengan dipikirin terus sampai pusing, tapi dengan dikerjakan. Orang bernyali tahu persis jalan sukses itu berbatu. Jatuh itu biasa, yang salah itu kalau telanjur malu terus tidak mau bangkit lagi.
Sikap nekad mengajarkan bahwa hidup harus tawakal full. Kenekadan batin bikin kita sadar kalau otak kita itu terbatas. Setelah ikhtiar pol-polan dikerjakan dengan berani, sisanya serahin total ke Sang Pengatur Takdir.
Ada kalanya hidup menaruh kita di ujung tanduk. Terjebak di kerjaan yang bikin stres jiwa, tekanan ekonomi yang bikin sesak napas, atau situasi buntu yang bikin kita serasa jadi ‘yang tersesat’ di lorong gelap.
Di saat demikian tragis, berpikir terlalu lama justru sama saja bunuh diri perlahan. Yang kita buutuhkan bukan kalkulasi rumit, tapi dobrakan keberanian.
Terkadang, satu-satunya cara keluar dari ruangan yang menyesakkan adalah dengan menabrak dinding ketakutanmu sendiri. Keluar lewat pintu depan, bukan lewat jendela keputusasaan.
Mulai Saja Dulu, Biarpun Agak Gemetaran
Maka dari itu, buang jauh-jauh anggapan kalau sukses itu cuma buat orang yang jalannya selalu mulus tanpa hambatan. Kesuksesan sejati cuma mau mampir ke orang-orang yang cukup berani buat mulai, meskipun jalan di depannya masih tampak gelap.
Simpan dulu teori-teorimu yang setinggi langit. Tarik napas yang dalam, luruskan niat karena Allah, lalu ayunkan kakimu hari ini juga. Sebab di hadapan semesta, seribu rencana indah di kepala itu nilainya nol besar kalau tidak dibayar dengan satu langkah nyata penuh keberanian! (Timika, 26102026)