POJOK
Santri Tanpa Sarung
Oleh : Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) Di benak masyarakat kita, identitas seorang santri hampir selalu dikunci oleh atribut-atribut fisik yang sangat khas, sarung yang terikat rapi di pinggang, peci hitam yang nangkring di kepala, baju koko putih, dan kitab kuning bertulisan pegon yang dipeluk rapat di bawah ketiak.
Simbol-simbol itu tentu saja mulia. Sarung adalah lambang kelokalan yang bersahaja, kepasrahan, dan keluwesan gerak. Tapi apa jadinya kalau atribut fisik itu mendadak dilepas?
Ketika seorang alumni pesantren harus memakai helm proyek dan sepatu boot di tengah debu tambang, mengenakan jas dan dasi di ruang rapat korporasi, memakai kaus oblong saat mengaduk semen, atau sekadar mengenakan celana jeans santai di jalanan kota—apakah status “kesantriannya” otomatis luntur?
Kesantriann Itu Karakter Jiwa, Bukan Cuma Kostum
Kesantrian sesungguhnya bukanlah perkara kain meteran yang dibelitkan di badan. Kesantrian adalah keadaan batin (hal) dan kompas moral (akhlak) yang sudah terpatri lekat di dalam Qalbun Salim. Sarung bisa saja ditanggalkan karena tuntutan profesi, medan kerja, atau ruang zaman. Namun, substansi jiwa santri tidak akan pernah bisa dilepas hanya karena baju luar berganti.
Jiwa santri tidak pernah arogan, santri selalu memgang ‘dawuh’ dengan sami’na wa atho’na pada nilai kebenaran. Di mana pun berada, ia selalu punya rasa tunduk pada kebenaran Ilahi dan takzim pada guru-guru ilmu.
Santri sejati sudah terbiasa tirakat, makan seadanya, dan hidup prihatin di pondok. Begitu terjun ke lapangan kerja yang keras, mental baja itu tidak gampang mengeluh apalagi patah di tengah jalan. Mau pakai celana lapangan atau pakaian kantor, cara pandangnya terhadap masalah hidup tetap dipandu oleh prinsip husnudzon, menjaga makanan dari yang haram, dan keberkahan proses. Serong santri selalu mengedepankan hikmah.
Bahwa pohon yang subur tidak pernah diciptakan hanya buat menghiasi pembibitan. Ia dipindahkan ke ladang luas agar bisa memberi naungan buat banyak orang, begitu pula dengan santri. Dunia di luar pesantren—dunia proyek, dunia bisnis, dunia pendidikan umum, hingga dunia digital yang bising—justru sangat membutuhkan kehadiran “santri tanpa sarung.”
Mereka yang tidak risih berbaur dengan masyarakat modern, tapi punya benteng iman yang tidak bisa dibeli dengan uang. Mereka yang menguasai rumus teknik, matematika, hukum, atau sains, tapi hatinya tetap tersambung rapat pada zikir dan ketakutan pada Pengadilan Ilahi. Mereka yang hadir menjadi “garam kehidupan”— tidak kelihatan menyolok dari luar, tapi bikin rasa obrolan dan suasana di sekitarnya jadi adem, jujur, dan berkah.
Menjaga Sarung di Dalam Dada
Maka, tidak usah minder kalau hari ini engkau tidak lagi berbusana sarung dalam rutinitas harianmu. Yang paling berbahaya itu bukanlah orang yang tidak bersarung tapi hatinya berjiwa santri, melainkan orang yang sarungnya bertumpuk-tumpuk tapi hatinya rakus, sombong, dan kehilangan kehalusan budi. Anggaplah sarung fisikmu kini telah kamu lipat rapi di dalam dada. Biarkan ia menjadi sarung batin yang membungkus egomu dari kesombongan, menjaga syahwatmu dari keserakahan, dan melapisi hatimu agar tetap rendah hati di mana pun kaki melangkah.
Sebab di hadapan Allah Yang Maha Melihat, yang dinilai bukanlah potongan kain yang kamu kenakan di luar, melainkan seberapa jernih kepasrahan dan keikhlasan jiwa santri yang kamu bawa hingga ke garis finish kehidupan. Kembali dalam kondisi diridhoi-nya. Aamiin. (Timika, 24102026)