POJOK
Mengerikan, Kebiasaan Bangun Siang !
Oleh : Mustaqiem Eska
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berdoa secara khusus untuk umatnya: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.”
(pdlFile.com) Ada satu kebiasaan kecil yang sering kali dianggap sepele tapi sungguh efeknya mengerikan, tapi justru kerap dimaklumi dengan alibi “capek kerja kemarin”, atau dimanja sebagai bentuk self-reward yang salah kaprah: kebiasaan bangun siang, hemmm.
Bagi sebagian orang, mendengkur saat matahari sudah tinggi hanyalah persoalan waktu tidur yang bergeser. Tapi kalau kita bedah pakai kesadaran relung batin terdalam yang jernih, bangun siang sesungguhnya menyimpan bahaya yang teramat mengerikan. Tidur siang bukan sekadar bikin badan lemas dan linglung, melainkan sebuah tindakan mencuri jatah energi dan berkah yang sudah dibagikan alam raya sejak fajar.
Coba perhatikan tatanan alam raya (secara Sunnatullah) saat subuh menjelang. Ada transisi energi yang luar biasa dahsyat tatkala kegelapan malam pelan-pelan digantikan oleh gelombang cahaya fajar. Udara masih murni, bumi bernapas pelan, dan para malaikat turun membagikan takaran rezeki, ketenangan batin, dan ide-ide jernih kepada siapa saja yang jiwanya sudah bangun.
Bagi orang yang memilih terus melingkar di dalam selimut sarung kumuh hingga matahari membakar genteng, ia ibarat tamu yang ketiduran saat pintu pembagian hadiah dibuka. Begitu ia terbangun di jam sembilan atau sepuluh pagi, hawa segar sudah menguap, udara murni fajar sudah berganti dengan debu dan hiruk-pikuk kebisingan.
Batin linglung dan tergesa-gesa, jiwa yang bangun telat biasanya langsung dihantam rasa bersalah, cemas, dan pikiran yang grusa-grusu. Seharian penuh, langkahnya bakal terasa kedodoran mengejar waktu yang sudah terbuang.
Lemas secara biologis dan spiritual, Dimana secara medis, tidur terlalu larut menembus pagi bikin metabolisme tubuh kacau. Secara spiritual, jiwa yang melewatkan momen fajar hingga ibadah sholat subuh adalah jiwa yang sengaja memutuskan sambungan sinyal (vibrasi) terbaik dengan Sang Maha Pencipta.
Sesungguhnya, cara seseorang menyambut pagi adalah cermin utuh dari caranya mengelola hidup. Orang yang kalah oleh godaan dingin pagi hari sesungguhnya sedang kalah dalam pertempuran paling mendasar: pertempuran melawan hawa nafsu sendiri. Kalau melawan beratnya kelopak mata di pagi hari saja kita sudah menyerah pasrah, bagaimana mungkin kita punya ketangguhan batin untuk menaklukkan ujian hidup yang jauh lebih rumit di luar sana?
Kebiasaan bangun siang itu ibarat kebocoran halus di dinding waduk. Kelihatannya cuma meloloskan beberapa jam waktu tidur ekstra, tapi lambat laun ia merobohkan seluruh struktur kedisiplinan hidup kita. Shalat subuh terlewat atau dikerjakan di ujung waktu dengan terburu-buru. Pekerjaan menumpuk karena waktu produktif pagi hari hilang begitu saja. Rasa malas melar ke mana-mana, bikin fokus pudar dan semangat karya jadi kerdil.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berdoa secara khusus untuk umatnya: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.”
Doa itu bukan sekadar kalimat puitis, melainkan sebuah petunjuk presisi. Berkah itu mengalir deras di waktu pagi! Orang-orang besar dalam sejarah, para ilmuwan yang melahirkan karya abadi, hingga para pencerah jiwa, selalu punya satu kemiripan tradisi, yakni mereka menaklukkan paginya terlebih dahulu.
Luruskan Niat Tidur. Tidurlah lebih awal dengan niat agar raga punya energi untuk menyambut fajar dan beribadah, bukan tidur melamun tanpa arah. Saat alarm atau azan subuh berkumandang, segera tendang selimutmu. Jangan beri celah sedikit pun buat otak menawar “lima menit lagi”. Basahi wajah dengan air wudhu. Biarkan gemericik air subuh menyengat dan menyapu seluruh kabut malas di kepala.
Selalu percaya, bangun sebelum matahari terbit adalah kemenangan pertama yang bisa diraih setiap hari. Ketika berhasil berdiri tegap di saat orang lain masih lelap tertidur, kita sedang mengirimkan sinyal kuat ke dalam dada sendiri: “Aku adalah pemenang atas diriku sendiri.”
Rasakan perbedaannya. Pagi yang disambut dengan zikir, gerakan badan, dan pikiran jernih akan memancarkan energi positif yang bertahan sepanjang hari. Langkahmu jadi mantap, kepalamu terang, dan rezeki yang kamu jemput terasa adem dan berkah.
Jangan biarkan selimut dan bantal empuk merampok masa depan. Bangun lebih cepat, dan jemputlah takdir terbaikmu yang sudah melambaikan tangan di bawah beningnya cahaya fajar! Jika mungkiin, sembari menunggu waktu syuruq selepas jamaah subuh : Iqra’ ! (Timika, 20102026)