POJOK
TAFSIR TOMAT
Oleh : Mustaqiem Eska
“Terima kasih buat tikungan tajam dan guncangan hidup hari ini. Kalau tidak gara-gara itu, kita mungkin bakal selamanya jadi tomat biasa yang cuma sukses berakhir di kuali dapur rumah makan.”
(pdlFile.com) Bayangkan, sebuah carry pick up berisikan tomat yang dibawa dari kebun menuju pasar. Secara ikhtiar, tomat-tomat itu sudaah dikemas sedemikian rupa. Mengingat jarak pengiriman yang tidak dekat, maka yang perlu dijaga adalah tingkat keamanan dan kesegarannya. Namun perjalanan memang tak selamanya menapak di jalan yang mulus. Sesekali memang kudu ketemu dengan tikungan tajam yang keriting dan berlubang, brakk! Mobil terguncang hebat.
Seketika, satu demi satu tomat terpental keluar dari celah peti. Melayang bebas di udara, gedubrak jatuh ke aspal panas, lalu pecah berhamburan terlindas ban mobil di belakangnya. Tragis banget. Buat tomat-tomat lain yang masih anteng di bak carry, nasib si tomat malang ini dibilang apes: tewas jadi sampah jalanan sebelum sampai tujuan.
Tapi, tunggu dulu. Kalau kita mau ‘ngopi’ sebentar di pinggir jalan rasanya ada hikmah yang bisa direnungkan.
Tentu saja, beberapa tomat yang mujur, selamat dari tumpah. Ia utuh dan bisa dijual. Sebuah kemenangan tersendiri. Begitu sampai di pasar, mereka bakal dipajang, dipilih-pilih dengan kasar, diiris-iris di atas talenan dapur, terus cemplungin ke kuali panas buat jadi bahan sambal atau sup yang lenyap ditelan perut orang. Alhasil, nilai hidup mereka habis begitu aja buat dipuja lidah manusia sesaat.
Tapi coba sejenak merenungkan Nasib tomat yang tragis. Mungkin kita menyayangkan ceerita hidupnya selesai dengan mengenaskan. Tetapi ternyata semesta punya rencana lain. Memang betul, tomat yang jatuh itu hancur berkeping-keping di atas aspal. Tapi, tahukah kamu? Di dalam tubuhnya yang remuk redam itu, ada biji-biji kecil yang selamat dari maut.
Biji-biji itu tersapu angin ke pinggir jalan, menyelip di balik retakan tanah subur, tersiram air hujan, lalu mengalami fase “dikubur” dalam keheningan bumi yang gelap.
Dan secara sunnatullah, tomat yang terjatuh fisiknya hancur. Waktu selanjutnya mengajarkan tomat harus bersabar, silent di dalam tanah yang sunyi untuk muhasabah. Kelak, begitu waktunya tiba, dari biji yang tadinya dianggap sampah itu, muncullah tunas hijau yang segar. Tumbuh jadi pohon tomat baru yang lebat, berbunga, dan menghasilkan ratusan buah tomat baru yang jauh lebih banyak.
Ya, tomat yang “gagal” itu ternyata tidak mati sia-sia. Dia justru lagi menularkan kehidupan baru. Jadi, dalam hidup kita sehari-hari, pernah merasa hancur pas tiba-tiba “dilempar” keluar dari rombongan?
Pas karier tiba-tiba ambruk, pas usaha gulung tikar, atau pas kita disingkirkan sama lingkungan yang toksik, hati kita pasti menjerit ngenes. Lantas kita merasa jadi orang paling malang sedunia.
Padahal, bisa jadi itu cara Tuhan menyelamatkan kita dari jalur hidup yang salah. Tuhan sengaja “menggoncang” pick up kenyamanan kita supaya kita terlempar dari zona aman yang melenakan. Tuhan membiarkan ego dan kepongahan kita remuk di atas aspal ujian, supaya biji ketulusan yang selama ini terkurung di dalam diri kita bisa bebas bernapas.
Hemmm, kalau hari ini diri lagi meerasa jatuh, remuk, dan tersingkir di pinggir jalan kehidupan, tidak usah buru-buru mengutuk nasib. Tarik napas dalam-dalam. Di balik dada yang rasanya sesak itu, ada benih ketangguhan yang lagi dikasih kesempatan sama Tuhan buat tumbuh. Nikmati proses “terkubur” sejenak dalam doa-doa sunyi di sepertiga malam.
Sebab kelak, ketika orang-orang yang dulu menertawakan sudah kecapekan mengejar bayangan semu, kamu justru bakal bangkit jadi pohon kehidupan yang rindang—kuat berdiri, teduh menaungi, dan penuh berkah buat sesama.
“Terima kasih buat tikungan tajam dan guncangan hidup hari ini. Kalau tidak gara-gara itu, kita mungkin bakal selamanya jadi tomat biasa yang cuma sukses berakhir di kuali dapur rumah makan.” (Timika, 07112026)

