POJOK
Jangan Warisi Kelucuan Pemimpinmu
Oleh : Mustaqiem Eska
“Sebab jika rakyat telah kehilangan rasa kramat pada kebenaran dan memilih mewarisi kelucuan pemimpinnya, maka sebuah negeri tak lagi membutuhkan musuh dari luar untuk hancur—ia akan rubuh oleh gelak tawa ketololannya sendiri.”
(pdlFile.com) Seperti di atas panggung besar lawak, kita kerap disuguhi tontonan yang memuakkan sekaligus menggelikan. Retorika dalam lawak itu tampak melompat-lompat tanpa tumpuan logika, janji-janji yang menguap sebelum usai diucapkan, serta pamer kebalas-budian yang dibungkus dengan topeng kepolosan. Semua terjadi, agar penonton bisa gerrrr. Perkembangan waktu, lawakan pun terjadi pada kelucuan para pemimpin. Tak ubahnya adalah tragedi yang sedang menyamar. Panggung lawak berikutnya yang sering kali dianggap sekadar hiburan murah di sela-sela kepengapan hidup. Namun, bahaya terbesar dari panggung lelucon politik bukanlah tingkah para pelakonnya, melainkan ketika penonton di bawah panggung mulai menirukan gaya jenaka yang sama dalam merawat kehidupan mereka sendiri.
Ketika seorang penguasa dengan entengnya mengobral kebohongan tanpa rasa malu, dan rakyatnya membalas dengan tertawa maklum seraya meniru ketidakjujuran itu di pasar-pasar, di ruang kelas, hingga di meja makan keluarga, maka ketololan itu telah resmi diwariskan. Kita sedang menyaksikan pembusukan kultural yang teramat diam. Ketika cynicism (sinisme) dianggap sebagai kearifan, dan kelakuan ugal-ugalan dipuji sebagai keluesan. Membebek pada “kelucuan” pemimpin yang buta marwah adalah cara tercepat untuk merobohkan tiang-tiang peradaban yang dibangun dengan darah dan air mata para leluhur.
Para penguasa bisa saja datang dan pergi membawa dagelan politik mereka, tetapi sebuah bangsa akan tetap berdiri kokoh selama rakyatnya menolak untuk menjadi badut-badut kecil yang mengekor di belakangnya. Jangan pernah membiarkan akal sehatmu tumpul hanya karena terbiasa melihat ketidakpatutan dipertontonkan setiap hari. Kebohongan yang diulang seribu kali oleh seorang pimpinan tetaplah sebuah kebohongan yang menjijikkan, dan ketidakadilan yang dikemas dalam lelucon tetaplah racun yang mematikan nurani.
Maka, rapatkan barisan batinmu dan jagalah marwah caramu berpikir. Biarlah panggung atas sibuk dengan ketidaklogisannya, namun di dasar bumi tempat kita berpijak, kejujuran harus tetap ditakar dengan presisi, janji harus tetap diikat sebagai utang, dan kata-kata harus kembali memiliki bobot kebenaran. Sebab jika rakyat telah kehilangan rasa kramat pada kebenaran dan memilih mewarisi kelucuan pemimpinnya, maka sebuah negeri tak lagi membutuhkan musuh dari luar untuk hancur—ia akan rubuh oleh gelak tawa ketololannya sendiri. (Timika, 06092026)