Pada Gelap, Bercahayalah!

blank
Foto : Ilustrasi Mas Boto & Mas Ali

POJOK

 

Pada Gelap, Bercahayalah!

Oleh: Mustaqiem Eska

 

 

“Cahaya adalah panggilan cinta untuk hadir di tengah kegelapan dan berseru kepada jiwa sendiri: bercahayalah!”

 

(pdlFile.com) ​ Dunia senantiasa menyisakan ruang-ruang remang tempat ketakutan dan kebodohan berternak dengan tenang. Di sudut-sudut yang alpa dari perhatian, kegelapan tidak pernah hadir sebagai sesosok wujud yang jumawa. Justru ia hanyalah ketiadaan—sebuah ruang hampa yang tercipta ketika cahaya memilih untuk memadamkan dirinya sendiri. Namun, manusia kerap kali melakukan kekeliruan yang melanggengkan malam. Serupa kita meratapi kegelapan dengan serapah yang riuh, alih-alih menyalakan sebatang lilin kecil di dalam dada.

 

​Padahal, tugas kemanusiaan yang paling mendasar aslinya tidak begitu rumit, namun menuntut keteguhan yang teramat mahal. Cahaya adalah panggilan cinta untuk hadir di tengah kegelapan dan berseru kepada jiwa sendiri: bercahayalah!

 

​Kemanusiaan diuji bukan saat kita berdiri di bawah lampu sorot tepuk tangan, melainkan saat kaki kita melangkah melintasi selokan ketiadaan arah. Tugas mutlak kita di muka bumi ini adalah memastikan bahwa mereka yang terbelenggu oleh kebodohan dapat disentuh oleh hangatnya pendidikan.

 

Pendidikan dalam wujudnya yang paling murni bukanlah sekadar tumpukan ijazah atau keahlian merakit kata, melainkan proses memanusiakan manusia—sebuah sentuhan lembut yang membangkitkan martabat jiwa dari lumpur keterbelakangan.

 

​Menjadi cahaya berarti memiliki keberanian untuk melangkah ke area-area kelam yang dihindari banyak orang. Yang gelap harus tercerahkan. Tentu bukan dengan cara menggurui dari atas menara gading, melainkan dengan membagikan pemikiran yang memerdekakan dan menanamkan benih kearifan di tanah nurani yang meranggas. Dan mereka yang buta—baik yang buta aksara maupun yang buta matanya dari melihat ketidakadilan—harus diselamatkan dari penderitaan yang menghimpit.

 

​Jejak peradaban terbaik telah dicontohkan secara agung oleh Rasulullah Muhammad SAW, sang pembawa risalah penuntun. Beliau hadir di tengah pekatnya zaman Jahiliyah bukan untuk mengutuk kegelapan Arabia, melainkan menuntun umatnya keluar dari kubangan kegelapan menuju cahaya yang benderang (minadh-dhulumaati ilan-nuur). Dari uswah beliau, kita belajar bahwa menyinari jiwa yang gulita membutuhkan ketabahan tanpa batas, kelembutan batin, dan kepedulian yang melampaui kepentingan diri sendiri.

 

​Karenanya, di tengah zaman yang kerap menyilaukan namun sejatinya redup nuraninya ini, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kesendirian namun bodoh. Sapalah mereka yang dahaga akan ilmu, ulurkan tangan kepada yang tersesat, dan bakarlah semangat jiwa-jiwa yang nyaris padam.

 

Toh, ukuran sejati dari perjalanan hidup manusia bukanlah seberapa banyak cahaya yang kita nikmati, melainkan seberapa terang pendaran yang sanggup kita pancarkan saat kegelapan datang melingkupi. (Timika, 30082026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *