POJOK
Sebuah Alasan Mencintai Waktu
Oleh : Mustaqiem Eska
“Orang yang sudah mencintai waktunya tidak bakal panik dikejar umur. Sebab buat dia, yang penting itu bukan seberapa panjang angka usianya, tapi seberapa padat keberkahan dan manfaat yang berhasil dia isi di setiap lipatan waktunya.”
(pdlFile.com) Banyak dari kita yang memandang waktu dengan perasaan waswas, cemas, atau bahkan kesal. Waktu kerapkali dituduh sebagai “pencuri” yang bikin kulit makin berkerut, pemutus momen-momen manis, penagih deadline yang tidak kenal ampun, sampai pembawa uban di kepala. Kita sering menganggapnya seperti pedang tajam yang siap menebas tanpa belas kasihan.
Padahal, kalau kita mau menurunkan kepanikan otak dan melihatnya dengan hati yang ‘sumeleh’, waktu itu sesungguhnya adalah bentuk rakhmatNya yang paling nyata.
Ada alasan penting kenapa Allah sampai bersumpah atas nama waktu (Demi Masa). Waktu itu bukan musuh yang harus kita musuhi atau takuti, tapi ‘tool’ yang dihamparkan supaya kita punya ruang buat bertumbuh, belajar, dan melangkah ke arah yang lebih baik.
Waktu Adalah Kesempatan Kedua
Coba bayangkan kalau di dunia ini tidak ada yang namanya dimensi waktu—seandainya semua akibat dari perbuatan kita terjadi secara instan tanpa jeda. Sekali kita bikin salah atau keblinger, detik itu juga hukuman langsung jatuh. Tidak ada jeda buat bernapas, tidak ada waktu buat menyesal, dan tidak ada panggung buat memperbaiki diri. Serem banget, kan? Di sinilah letak alasan terbesar kenapa kita harus jatuh cinta sama waktu.
Waktu memberi kita jarak antara kesalahan hari ini dan perbaikan esok pagi. Waktu juga memberi ruang buat pendewasaan, agar ada jeda supaya niat taubat sempat bertunas, supaya gengsi dan kesombongan kita melunak, dan supaya air mata penyesalan sempat menetes di atas sajadah di sepertiga malam.
Tanpa adanya sang waktu, kita tidak bakal pernah tahu indahnya proses belajar sabar, nikmatnya menyembuhkan luka batin, atau manisnya memaafkan. Waktu adalah bukti nyata kalau Allah itu Maha Penyabar dan tidak pernah terburu-buru menghukum hamba-Nya.
Secara fisik, detik demi detik yang berdetak di dinding memang tidak pernah bisa diputar balik. Tapi di situlah letak mahalnya! Sesuatu yang jumlahnya melimpah tanpa batas biasanya cuma dianggap murah dan gampang disia-siakan. Justru karena jatah waktu kita di bumi ini ada batasnya—dan rahasia—setiap helai napas hari ini jadi terasa teramat berharga.
Mencintai waktu artinya menghargai setiap inci detik yang kita lewati sebagai kanvas kosong. Setiap pagi yang terbit itu ibarat surat cinta baru dari Rabb yang berbisik: “Ini Aku kasih kamu satu hari lagi, silakan lukis kebaikan di atasnya.”
Setiap detik adalah kesempatan buat menanam kebiasaan baik, bikin karya bermanfaat, menyapa keluarga dengan senyuman tulus, atau sekadar berzikir menenangkan batin.
Orang yang sudah mencintai waktunya tidak bakal panik dikejar umur. Sebab buat dia, yang penting itu bukan seberapa panjang angka usianya, tapi seberapa padat keberkahan dan manfaat yang berhasil dia isi di setiap lipatan waktunya.
Ya, waktu adalah obat alami paling manjur buat hati yang lagi remuk. Pas kita lagi dihantam masalah berat, kehilangan orang tersayang, atau mendapati impian hancur berantakan, rasanya detik demi detik berjalan lambat dan menyiksa banget. Tapi kalau kita mau pasrah dan percaya sama alur waktu, pelan-pelan sang waktu bakal membalut luka itu.
Waktu mengubah rasa sakit yang tajam menjadi kebijaksanaan hidup yang dalam. Waktu mengajari kita arti tawakal—bahwa tidak ada malam gelap yang tidak diakhiri oleh terbitnya matahari pagi, dan tidak ada kesedihan yang abadi di dunia ini.
Cintailah waktu dengan cara menyapanya setiap hari, dengan tidak usah cemas berlebihan memikirkan hari esok yang belum kejadian. Yang penting, pastikan detik ini kamu lagi melangkah di jalan yang baik. (Timika, 23102026)