Mulailah Menanam Sejak Hari Ini

blank

POJOK

 

Mulailah Menanam Sejak Hari Ini

​Oleh : Mustaqiem Eska

​

 

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah (HR Bukhari & Ahmad).

(pdlFile.com)  Ada satu penyakit batin yang paling sering bikin hidup kita jalan di tempat, hobi menunda-nunda sambil halu akan masa depan. ​Kita sering bilang ke diri sendiri: “Nanti deh kalau modalnya sudah kumpul banyak, baru mulai,” atau “Nanti kalau ada waktu luang, baru mau fokus mengerjakan hal-hal baik.” ​Padahal kalau dipikir-pikir dengan akal sehat, masa depan itu sebenarnya masih dalam bentuk bayangan—belum tentu jadi milik kita. Sementara masa lalu sudah jadi semen keras yang tidak bisa dibongkar lagi. Satu-satunya modal nyata yang benar-benar ada di tangan kita buat diolah ya hanya hari ini. Karenya, mulailah menanam sejak hari ini. Sebab pohon rindang tak pernah tumbuh semalam

​Coba perhatikan pohon beringin atau pohon jati rimbun yang sering kita lihat di pinggir jalan. Pohon adem yang bikin orang betah berteduh dari terik matahari itu tidak pernah mendadak nongol begitu saja dari dalam tanah. ​Puluhan tahun lalu, ada orang yang rela jongkok di atas tanah, membenamkan satu biji benih kecil yang kelihatan tidak ada harganya, lalu rutin menyiramnya tanpa pusing kapan pohon itu bakal berbuah.

​Menanam sejak hari ini adalah bentuk nyata dari ikhtiar. ​Kalau punya niat baik, eksekusi hari ini. Kalau mau belajar ilmu baru, baca lembar pertamanya hari ini. ​Kalau mau memperbaiki bikin karya, ketik kata pertamanya hari ini. ​Itu cara paling simpel buat membuktikan kalau kita beneran menghargai karunia waktu yang dikasih Tuhan.

​Jangan Nunggu Cuaca “Sempurna”

​Banyak orang yang gagal melangkah bukan karena dia tidak punya potensi atau ide, tapi karena terlalu sibuk menunggu kondisi yang sempurna. ​Nunggu iklimnya adem dulu.​Nunggu kantong tebal terlebih dahulu. ​Nunggu dipuji dan didukung orang banyak dulu. ​Padahal dalam hukum alam, mana ada yang namanya “waktu yang sempurna”? Petani sejati itu paham betul, kalau tanahnya keras, ya dicangkul hari ini biar gembur besok. Kalau nanamnya pas musim kering, akarnya justru bakal dilatih buat merambat lebih dalam mencari sumber air. ​Kalau kamu nunggu semua situasi di sekitarmu ideal dulu baru mau bergerak, lahan hidupmu keburu dipenuhi semak belukar ragu dan cemas.

​Pelajaran Penting tentang Bibit Kurma

​Ada satu pesan kenabian yang rasanya jleb banget di hati: “Seandainya besok mau kiamat, dan di tanganmu ada satu bibit pohon kurma, kalau sempat ditanam sebelum kiamat datang, ya tanamlah!”

​Coba bayangkan, buat apa coba nanam bibit kurma—pohon yang butuh bertahun-tahun buat berbuah—kalau besok dunianya saja sudah mau bubar?

​Nah, di situ letak kunci utamanya bahwa menanam itu bukan soal kamu bakal sempat menikmati buahnya atau tidak. Menanam itu adalah tugas sebagai manusia hari ini. ​Tuhan itu tidak pernah menuntut kita untuk sukses memanen seluruh hasil bumi. Yang dilihat cuma satu: di detik waktu yang dikasih hari ini, jemari kita sibuk menggerutui keadaan atau tekun menanam kebaikan?

​Mulai Benamkan Biji Pertamamu

​Coba tengok lahan hidupmu hari ini. ​Apa benih impian yang selama ini cuma kamu simpan di dalam laci wacana? Niat minta maaf? Niat mulai nulis esai? Niat bikin usaha kecil-kecilan? Atau niat konsisten ibadah? ​Keluarkan biji itu dari sakumu. Luruskan niatnya, lalu benamkan ke dalam tanah hari ini juga. Ya, hari ini juga.

​Soal apakah nanti hujan bakal turun cukup, apakah bakal ada angin kencang, atau apakah kamu sendiri yang bakal menikmati hasilnya nanti—ya sudah, pasrahkan saja sama Sang Maha Pengatur, Allah Subkhanahu Wata’ala. Tugasnya cuma satu: menanam dengan tulus hari ini. Sisanya, biarkan takdir yang bekerja memekarkan bunga-bunga kebaikan pada waktu yang paling indah. (Timika, 19102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *