POJOK
Pertanyaan Istri Seorang Penulis
Kok ayah belum nulis hari ini ?
Bayangkan, tentu itu pertanyaan yang langka dari seorang isteri pada umumnya. Bayangkan juga bagaimana dada ini langsung mengembang penaka gunung berapi. Rindu menjadi bermaghma dan cinta sejati bergemuruh menjalari seluruh tubuh.
Sementara menulis bukan tentang kaya, bukan tentang tenar dan bukan tentang atribut. Menulis adalah kesadaran menyimpan setiap pikiran yang melintas. Mengurai rasa syukur dengan jalan yang luas. Meramaikan hal-hal kebaikan kecil yang sengaja disembunyikan oleh kejahatan.
Dan pertarungan itu nyata, hingga seorang Penulis rela dibesarkan oleh jaman yang tersunyi dan penuh rintangan.
Dan kau istriku, terimakasih atas pertanyaan yang membuat suamimu benar-benar menjadi laki-laki.
Hemmm, samudera keringat yang terus mengombak menyembur dari ribuan pori-pori ini, tentu lelahnya tak akan sanggup membeli supportmu yang tulus untuk suamimu yang berharap menumpahkan pengabdiannya untuk literasi Indonesia. Sekalipun, sangat tak penting dan berperangaruh untuk Indonesia. Tapi setidaknya untuk catatan anak keturunan kita. Itu sudah anugerah besar bagi kita.
Memang terlalu kecil langkah ini, dan mungkin terasa tak pantas untuk dibaca hari ini. Tapi keyakinan selalu berujar, bahwa kelak karya-karya itu akan menemukan jamannya. Dan ia akan menjadi pendar bagi jalan-jalan yungyung. Bismillah.
Terimakasih istriku, atas pertanyaan yang membuat suamimu semakin merindukanmu….
love u
(ayah)