Orang Tua Percontohan

blank
oppo_0

POJOK

 

Orang Tua Percontohan

​Oleh : Mustaqiem Eska

​

 

“Sudah pantaskah aku menjadi teladan bagi jiwa-jiwa kecil yang dititipkan Tuhan di rumahku?”

 

(pdlFile.com) Rasanya selayak pemandangan klise, tapi begitu abadi di setiap rumah tangga. Bahwa seorang bapak atau ibu dengan suara menggelegar menyuruh anaknya rajin belajar, berhenti main gawai, atau belajar sabar. Padahal, di tangan sang orang tua sendiri, layar smartphone menyala terang tanpa henti, dan tumpukan lantai kotor, ruang tamu berantakan, dapur berisikan ‘gedibal’ debu di sela-sela kompor dapur.

​Kita sering kali menuntut anak-anak kita menjadi manusia yang sempurna, sholeh, cerdas, dan baik, tanpa pernah sadar bahwa anak-anak itu tidak belajar dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang kita contohkan.

​Hemmm, mendidik anak tidak pernah cukup hanya dengan modal petuah manis atau ceramah panjang lebar di meja makan. Rumah tangga bukanlah panggung seminar, dan orang tua bukanlah motivator bayaran. Rumah adalah laboratorium keteladanan hidup, dan orang tua adalah orang tua percontohan—pustaka hidup yang dibaca anak setiap detik.

​

Mendidik Lewat Frekuensi Batin

​Anak-anak punya radar batin yang jauh lebih peka dibanding yang kita kira. Mereka bisa mencium kepura-puraan dari jarak jauh. ​Kalau kita menyuruh mereka jujur, tapi mereka melihat kita gampang berbohong demi urusan sepele di depan tamu, seluruh nasihat kita langsung runtuh seketika. Kalau kita menyuruh mereka berbuat baik, tapi kita sendiri meledak-ledak marah tiap kali menghadapi masalah kecil, maka kalimat kita berubah jadi angin lalu yang mengotori udara rumah.

​Hal terbaik yang harus dilakukan oleh orangtua adalah luruskan diri sendiri dulu. Bagaimana mungkin kita menunntut hati yang bersih pada anak, sementara batin kita sendiri penuh dengan kemalasan, dengki, iri, dan amarah yang dipelihara?

​Ajarkan kepada anak  keteladanan dalam kelemahan. Orang tua percontohan bukanlah manusia tanpa salah. Ketika kita berbuat salah di depan anak, kebesaran jiwa untuk berani meminta maaf adalah pelajaran agung yang jauh lebih berharga daripada seribu teori kebenaran.

​Menanam Teladan, Menjemput Keberkahan

​Nabi Ibrahim Alaihissalam tidak hanya mendoakan keturunannya dengan kata-kata kosong, tapi memperlihatkan ketaatan mutlak lewat tindakan nyata. Beliau adalah prototipe orang tua percontohan yang jejak langkahnya diabadikan oleh semesta. ​Sebab anak-anak itu seperti rekaman spons yang menyerap semua gestur kita.

​Cara kita memperlakukan pasangan hidup di rumah. ​Cara kita merespons musibah dan kesulitan ekonomi dengan tawakal. ​Cara kita menghormati waktu, menjaga waktu sholat, dan memperlakukan orang lain dengan welas asih. ​Semua itu masuk tanpa izin ke dalam memori bawah sadar mereka, membentuk fondasi karakter yang kelak akan mereka bawa menembus zaman.

​​Bismillah, tanyakan pada diri sendiri terlebih dahulu, “Sudah pantaskah aku menjadi teladan bagi jiwa-jiwa kecil yang dititipkan Tuhan di rumahku?”

​Alhasil, anak-anak kita tidak butuh orang tua yang paling benar bicaranya. Mereka butuh orang tua percontohan yang tulus mencontohkan bagaimana cara hidup lurus, rendah hati, dan selalu penuh keteladanan ibadah. (Timika, 31102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *