POJOK
Terima Kasih, Kerumitan
Oleh : Mustaqiem Eska
“Tanpa tikaman luka-luka itu, barangkali kita akan terus jadi manusia yang arogan, merasa paling benar, dan tidak pernah kenal siapa diri kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan.”
(pdlFile.com) Manusia itu makhluk yang aneh. Kalau bisa memilih, kita pasti selalu meminta jalan hidup yang lurus, mulus, tanpa hambatan, dan dipenuhi gelimang kebahagiaan. Kita ingin hidup seperti di dalam brosur pariwisata, indah, tenang, dan menyenangkan sepanjang hari. Kita paling benci sama yang namanya masalah, paling alergi sama konflik, dan rasanya ingin membuang jauh-jauh setiap episode hidup yang mendatangkan air mata.
Padahal, kalau kita mau merenung dengan dada yang lapang di ruang muhasabah, tanpa hadirnya kerumitan, mustahil jiwa kita yang lemah ini bisa tumbuh menjadi dewasa dan bijaksana. Tak ada alasan, sudah sepatutnya hari ini kita menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat yang tidak biasa: “Terima kasih, Kerumitan.”
Tidak ada orang yang suka disakiti. Rasa dikhianati, kekecewaan yang menusuk dada, hingga sisa-sisa dendam yang sempat singgah di dalam bilik hati adalah pengalaman yang rasanya hendak kita hapus dari memori. Tapi cobalah tanyakan pada jujurnya nurani: kapan terakhir kalinya kita benar-benar belajar saat hidup sedang baik-baik saja?
Jawabannya pasti : hampir tidak pernah.
Kesenangan dan pujian itu sifatnya memabukkan dan melenakan. Ia membuat manusia merasa hebat sendiri dan lupa daratan. Sebaliknya, justru di saat kerumitan datang—saat rencanamu berantakan, orang yang kamu percaya menusuk dari belakang, atau pintu rezeki mendadak terasa tertutup rapat—di situlah hati dipaksa untuk terdiam secara terhormat.
Ya, kekecewaan mengajarkan kita cara melepaskan genggaman pada manusia. Bahkan rasa sakit yang tertinggal menjadi alarm keras yang membangunkan kita dari mimpi-mimpi kosong, lalu menyeret kita bersujud di atas sajadah dalam keheningan malam. Tanpa tikaman luka-luka itu, barangkali kita akan terus jadi manusia yang arogan, merasa paling benar, dan tidak pernah kenal siapa diri kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan.
Kepingan Puzzle yang Menggenapkan
Hidup ini ibarat sebuah kotak besar berisi ribuan kepingan puzzle. Di awal, kepingan-kepingan itu terlihat tercerai-berai, acak-acakan, ada yang warnanya gelap, ada yang bentuknya aneh dan menyakitkan mata. Banyak orang mengira kepingan yang berbentuk mulus dan terang saja yang harus dipasang. Padahal, kepingan puzzle yang berwarna gelap, bentuknya melengkung tajam, atau penuh goresan luka justru memegang peran krusial untuk mengunci kepingan lainnya agar tidak copot.
Begitu juga dengan kerumitan hidup, air mata kekecewaan adalah kepingan warna gelap yang memberi kontras indah pada lukisan takdirmu. Episode pahit dan pengkhianatan adalah kepingan sudut tajam yang menahanmu agar tidak terjerumus ke jurang kesombongan yang lebih dalam.
Ketika semua fase itu—baik tawa yang renyah maupun tangis yang sesak—dirangkai jadi satu oleh waktu, tiba-tiba kita akan melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Gambar besar kehidupan kita jadi terlihat utuh, sempurna, dan memiliki makna yang begitu dalam.vTernyata, tidak ada satu pun kejadian di masa lalu yang sia-sia. Semuanya pas pada tempatnya.
Maka, kepada setiap kerumitan yang pernah atau sedang singgah di hari-harimu hari ini, jangan dikutuk terus. Jangan habiskan usiamu untuk meratapi kenapa takdir harus berjalan sesulit itu. Pandanglah ia sebagai tamu agung yang datang membawa kurikulum pendewasaan dari langit. Ucapkan terima kasih padanya, sebab berkat kerumitan itu, bahwa dada jadi lebih luas menahan sabar. Mata jadi lebih awas melihat mana kawan sejati dan mana kawan pencitraan. Hati jadi lebih lembut dan mudah iba melihat penderitaan sesama.
Kita memang makhluk yang lemah (dhaif), tapi justru di atas reruntuhan kerumitan dan luka itulah Tuhan merubuhkan keakuan kita, lalu membangun kembali bangunan jiwa yang jauh lebih kuat, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada-Nya.
Terima kasih, Kerumitan. Engkau telah melengkapi kepingan hidupku, menggenapkan sabarku, dan membimbingku pulang ke pelukan hikmah yang sejati. (Timika, 29102026)
