Novel : PENJAHAT
Penulis : Mustaqiem Eska
Hadiah yang Menyakitkan
(6)
Di dalam keheningan kamar yang hanya diterangi temaram lampu meja, ia melipat lututnya. Rumah ibadah kecil di sudut ruangan itu kini menjadi satu-satunya tempat yang ramah baginya. Di sinilah ia memilih untuk pulang—kembali mengetuk pintu rumah Tuhan, satu-satunya tempat di mana ia bisa merenung dan mengadukan segala persoalan tanpa takut dihakimi.
Namun, berdamai dengan masa lalu tidak pernah menjadi perjalanan yang mulus.
Tiba-tiba, sunyi malam merayap naik menembus dinding-dinding kamar, membawa serta bisikan-bisikan lama. Godaan keputusasaan itu datang lagi. Kali ini rasanya begitu pekat, seolah mencekik leher dan membuat jiwanya terasa mencekam. Detak jantungnya memburu seiring dengan bayang-bayang kegagalan yang menari-nari di dinding pikiran. Ada bisikan halus yang terus meyakinkannya bahwa semuanya sudah terlambat, bahwa ia sudah terlalu jauh untuk diselamatkan. Ia memejamkan mata erat-erat, menahan sesak di dada. Kenyataan di luar sana sama sekali tidak membantu.
Keluarga yang sedarah kini terasa asing. Orang-orang sekitar yang dulu bersenda gurau perlahan menghindar, memandang seolah dirinya adalah wabah yang harus dijauhi. Tidak ada support sedikit pun. Jangankan kata-kata penyemangat, sapaan pelik di pagi hari pun telah absen berbulan-bulan. Mereka mengunci pintu, mengunci hati, dan membiarkannya berjalan sendirian di lorong yang gelap. Namun, di tengah cekaman rasa sepi yang begitu menghimpit, sebuah kesadaran baru perlahan terbit seperti fajar yang memecah malam.
Hari-hari sendiri ini, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, ternyata adalah sebuah hadiah yang menyakitkan namun berkah. Hari-hari sepi adalah saat yang paling tepat untuk memang kembali hanya bersama Tuhan.
Tanpa riuh rendah suara manusia, tanpa kepalsuan pujian, dan tanpa tuntutan dunia, ia kini benar-benar berhadapan satu lawan satu dengan Penciptanya. Di atas sajadah yang mulai basah oleh air mata, di sinilah tempat penyesalan yang paling jujur bermuara.
Ia membiarkan air matanya luruh bebas, membasuh noda-noda hitam yang selama ini mengotori hatinya. Setiap bulir air mata adalah pengakuan dosa, dan setiap tarikan napasnya adalah tekad bulat untuk melangkah di jalan yang benar. Biarlah dunia menjauh, biarlah manusia pergi. Selama Tuhan masih membukakan pintu rumah-Nya, ia tahu, ia tidak pernah benar-benar sendirian.
Malam merayap makin larut di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Di sudut sel yang sempit, Lahdat menatap jemari tangannya yang kini kasar dan dipenuhi guratan sedu. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma pengab jeruji besi yang telah menjadi saksi bisu transformasinya.
Lelaki yang kini bersujud di lantai semen dingin itu bukan lagi anak-anak.
Ia masuk ke tempat ini bertahun-tahun lalu dengan baju yang kedodoran dan tangis ketakutan seorang bocah. Kasus pembunuhan di masa kanak-kanak telah merenggut paksa dunia bermainnya, menggantikannya dengan vonis mati bagi masa mudanya: 15 tahun penjara. Separuh usianya habis di balik jeruji. Dinding-dinding beton ini telah melihatnya tumbuh dari seorang anak yang bingung menjadi seorang pria dewasa yang memanggul beban dosa masa lalu.
Pergulatan di Balik Jeruji
Menjadi narapidana sejak kecil menempa jiwa Lahdat dalam tungku api yang teramat keras. Di tahun-tahun awal, sel ini tak ubahnya neraka. Ia adalah mangsa empuk, samsak kemarahan, dan objek keputusasaan. Namun, justru di titik terendah itulah, petualangan jiwanya yang sesungguhnya dimulai.
Ketika dunia luar—termasuk keluarganya sendiri—memilih untuk lupa dan menghapus namanya dari silsilah, Lahdat menoleh ke atas. Di dalam ruang tiga kali empat meter yang sunyi, ia memulai pencarian spiritual yang radikal.
Tahun-tahun awal adalah pemberontakan. Menolak kenyataan, mengutuk takdir, dan tenggelam dalam histeria malam yang mencekam. Tahun-tahun pertengahan adalah pencarian. Mulai menyentuh kitab suci yang berdebu di pojok sel, mengeja kembali nama Tuhan yang sempat ia lupakan.Dan tahun-tahun akhir afalah kepasrahan. Menemukan bahwa kebebasan sejati bukan saat gerbang lapas dibuka, melainkan saat jiwanya berhasil lepas dari belenggu dendam dan penyesalan.
Kini, dengan kumis tipis dan tatapan mata yang dalam penuh pembawaan, Lahdat menghadap kiblat. Di dalam sel terisolasi ini, ia justru menemukan “Rumah Tuhan” yang paling megah.
”Tuhan…” bisik Lahdat, suaranya sunyi menahan getar. “Mereka menghukumku karena aku mencabut satu nyawa saat aku bahkan belum mengerti arti kehidupan. Kini aku menyerahkan sisa hidupku yang cacat ini ke tangan-Mu.”
Setiap malam adalah petualangan spiritual yang melelahkan sekaligus menyembuhkan. Jiwanya kerap kali diterjang badai keputusasaan. Saat membayangkan sisa masa tahanannya, dadanya kerap terasa sesak seolah tembok sel menjepitnya hidup-hidup. Teman-teman sesama napi sibuk merencanakan kriminalitas baru setelah bebas, sementara keluarga tak pernah sekali pun datang di hari kunjungan. Lahdat benar-benar yatim piatu secara sosial.
Namun, Lahdat menolak menyerah pada kegelapan sel. Penjara fisik ini boleh mengurung raganya selama belasan tahun, tetapi jiwanya telah menemukan jalan pulang. Di tempat penyesalan yang paling sunyi ini, Lahdat menapaki jalan yang benar—sebuah pertobatan dari seorang napi anak yang kini telah matang ditempa kesendirian dan rahmat Tuhan yang tak kasat mata. ###
