Menjinakkan Bayangan di Cermin

TSP – 033 – 20072026

 

 

Menjinakkan Bayangan di Cermin

 

Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

 

(pdlFile.com) ​Di antara ribuan misteri yang terhampar di kolong langit, tidak ada makhluk yang lebih liar, lebih fasik, sekaligus lebih suci selain sosok yang kita tatap di balik permukaan cermin saban pagi. Kita sering mengetuk pintu langit untuk mengutuk takdir, menyalahkan badai yang menghantam sampan kehidupan, atau menuding jemari pada orang lain atas ketidaknyamanan kita. Padahal, jika tirai kepalsuan kita singkap, makhluk paling tegar melawan kendali kita bukanlah dunia, melainkan diri kita sendiri.

 

​Dalam hening spiritualitas, diri adalah sebidang tanah yang terus-menerus diperebutkan oleh dua daya: kepasrahan yang lembut bagai embun, dan ego yang membatu bagai karang. Diri yang susah dikendalikan ini kerap berwujud jiwa yang meronta (nafsu), seekor kuda liar yang menolak dikuasai oleh penunggangnya.

​Ia ingin meneguk air asin selagi dahaga, tanpa sadar bahwa kian diminum, kian tercekik tenggorokannya.

 

Spiritual mengajarkan bahwa menaklukkan diri bukanlah sebuah tindasan yang berdarah-darah, melainkan sebuah pertobatan yang tekun. Menjinakkan diri adalah seni menundukkan kening ke bumi; sebuah paradoks indah di mana kita hanya bisa mengendalikan diri justru ketika kita belajar berserah kepada Yang Maha Menguasai.

 

​Pribadi yang sulit diatur adalah sebuah rumah tua bertingkat banyak, di mana kita hanya berani menghuni ruang tamu yang terang benderang. Kita membuang ketakutan, amarah, dan kecemburuan ke dalam ruang bawah tanah—yang oleh Carl Jung disebut sebagai the shadow (sang bayangan).

 

​Namun, makin keras kita mengunci pintu bawah tanah itu, makin riuh ia menggedor dari dalam. Diri yang tak terkendali acap kali runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pemberontakan isi rumahnya sendiri. Pendekatan psikologi menuntut kita untuk berani turun ke ruang bawah tanah itu membawa sebatang lilin kesadaran. Mengendalikan diri bukan berarti memusnahkan sang bayangan, melainkan merangkulnya, menyapa namanya dengan lembut, dan mengintegrasikannya agar ia tak lagi berkuasa dalam gelap.

 

​Yah, hidup adalah sebuah ruang kelas yang tak pernah usai, di mana kita memegang dua peran sekaligus: sebagai murid yang keras kepala dan guru yang harus seribu kali bersabar. Diri yang susah dikendalikan adalah murid yang kerap melompati pagar aturan, terbuai oleh kesenangan sesaat, dan enggan membaca kitab pengalaman.

 

​Pendidikan diri bukan tentang hukuman yang mencambuk, melainkan tentang pembiasaan yang tekun. Seperti seorang pengukir yang memahat batu keras menjadi patung yang bernyawa, proses mendidik diri membutuhkan ketelatenan. Setiap kali kita gagal, setiap kali kita jatuh dalam ketidakdisiplinan yang sama, tugas “sang guru” di dalam diri kita bukanlah memaki, melainkan mengulurkan tangan dan berkata, “Ayo, kita mulai lagi dari halaman pertama.”

 

​Dan kepada pribadi, mengendalikan diri bukanlah tentang memenangkan pertempuran untuk menghancurkan, melainkan proses merajut kedamaian. Kita tidak sedang berusaha membunuh sang kuda liar, melainkan menuntunnya agar bisa berlari menuju tujuan yang sama. Sebab, sejauh apa pun kita berlari menembus batas dunia, pada akhir perjalanan, sosok yang harus kita temui dan ajak berdamai… tetaplah diri kita sendiri. Mulailah belajar mengaca diri dengan cara yang benar. (Timika,20072026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *