POJOK
Menghadapi Diri Sendiri
Oleh : Mustaqiem Eska
“…. kitalah arsitek utama dari kekacauan di dalam batin kita.”
(pdlFile.com) Terkadang, saat melihat kegaduhan bermasyarakat , kita sering kali mendadak menjadi sosok yang teramat gagah. Kita berani memprotes kebijakan yang tidak adil, lantang menolak kedzaliman penguasa, dan tangkas menuding kebohongan orang lain dengan jari yang tak pernah bergetar. Gelanggang publik mengajarkan kita untuk memakai baju zirah, yakni topeng keberanian yang dirancang rapi agar terlihat tak bertolak belakang dengan cita-cita moral.
Namun, ada satu medan pertempuran yang kerap membuat “pendekar“ paling perkasa sekalipun mendadak lunglai dan gemetar. Apa itu? Ya, sebuah cermin -saat sunyi- yang menuntut kita untuk berhadapan dengan diri sendiri.
Menghadapi diri sendiri adalah pertempuran melucuti seluruh atribut kepongahan. Di ruang tanpa penonton itu, sorak-sorai pujian tak lagi berlaku, dan gelar atau reputasi yang dibangun bertahun-tahun runtuh menjadi abu yang tak bernilai. Di sana, yang tersisa hanyalah kita dan tumpukan kenyataan yang jujur, berupa ketakutan-ketakutan kecil yang disembunyikan, ambisi murahan yang dibungkus atas nama kebaikan, serta jejak-jejak luka dan kesalahan yang enggan kita akui.
Secara batin, betapa tingginya kedalaman jiwa yang dibutuhkan seseorang untuk tidak melarikan diri saat menatap jurang batinnya sendiri. Sebab, melarikan diri ke luar—ke dalam kesibukan pekerjaan, kemewahan materi, atau perdebatan politik yang tak usai—jauh lebih mudah daripada harus duduk berdua dengan nurani yang menuntut kejujuran.
Kita sering kali menjadi penakut di hadapan cacat diri sendiri, lebih memilih menyalahkan takdir, zaman, atau orang lain daripada harus mengakui bahwa kitalah arsitek utama dari kekacauan di dalam batin kita.
Keberanian sejati tidak pernah diukur dari seberapa keras kita berteriak di tengah demonstrasi, melainkan dari keberanian kita untuk jujur di dalam kesepian. Itulah ketegaran jiwa untuk menatap kelemahan tanpa memunculkan penyangkalan, mengakui dosa tanpa mencari pembenaran, dan menerima kenyataan bahwa kita adalah manusia yang penuh keterbatasan.
Tanpa keberanian menghadapi diri sendiri, seluruh perjuangan kita di luar sana hanyalah sandiwara yang melelahkan. Sebab barangsiapa yang belum selesai bertarung dan berdamai dengan bayang-bayangnya sendiri, ia tidak akan pernah benar-benar sanggup membawa pencerahan bagi orang lain. Ia hanya sedang memindahkan kegelisahan batinnya ke atas panggung kehidupan. (Timika, 29082026)