Alam Menghukum yang Lemah

blank

POJOK

 

Alam Menghukum yang Lemah

Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Kekuatan yang terakumulasi tanpa imbangan sering kali menjelma menjadi mesin penggilas yang tak berjiwa, menjadikan ketidakberdayaan rakyat kecil sebagai tumbal atas nama stabilitas atau ambisi.”

 

 

​(pdlFile.com)  Friedrich Nietzsche pernah melemparkan sebuah cermin dingin ke hadapan sejarah manusia. Katanya, alam tidak pernah memedulikan dogma baik dan buruk, alam hanya mengenali satu hukum rimba —ia menghukum yang lemah, bukan yang jahat. Di belantara raya, klausul ini bekerja tanpa celah. Serigala membantai domba bukan karena kejahatan moral, melainkan karena serigala memiliki taring dan domba tak punya benteng pertahanan. Dalam rimba, kelemahan adalah dosa terbesar, dan kekuatan adalah satu-satunya legitimasi untuk bertahan hidup.

​Ketika lensa ini diarahkan pada peta kekuasaan manusia, petikan logika itu kerap memancarkan kebenaran yang getir. Penguasa yang zalim menindas rakyatnya yang lemah persis seperti pemangsa meremukkan mangsanya. Kekuatan yang terakumulasi tanpa imbangan sering kali menjelma menjadi mesin penggilas yang tak berjiwa, menjadikan ketidakberdayaan rakyat kecil sebagai tumbal atas nama stabilitas atau ambisi. Di titik ini, hukum rimba seolah-olah berhasil mendikte Sejarah, bahwa  siapa yang kuat, dialah yang menentukan narasi.

​Namun, Nietzsche terantuk pada batas yang tajam ketika logika rimba itu dipaksa berlaku dalam semesta kemanusiaan. Manusia bukanlah serigala bagi manusia lainnya jika ia masih merawat peradaban dan etika. Berbeda dari belantara yang didorong oleh impuls instingtual semata, dunia manusia ditegakkan di atas pondasi moral, nurani, dan kesadaran spiritual. Kekuatan fisik atau politik yang mengabaikan etika mungkin sanggup memenangkan pertempuran sesaat, tetapi ia akan selalu kalah dalam gelanggang hakiki peradaban.

​Kejahatan dalam bentuk apa pun, betapapun megahnya ia dibungkus oleh kekuatan dan kekuasaan, pada akhirnya akan membusuk di dalam diri pelakunya. Ia merayap menjadi penyesalan, kecemasan yang tak kunjung padam, dan kehancuran batin yang tak terbeli oleh kekayaan. (Al-Qur’an Surah Al-Isra’ : 7) merekam hukum universal ini dengan begitu presisi. “In ahsantum ahsantum li-anfusikum, wa in asa’tum falahaa” —jika kamu berbuat baik, pada hakikatnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu akan kembali menghantam dirimu sendiri.

​Hukum manusia dan ketetapan Ilahi tidak pernah menempatkan kelemahan fisik sebagai alasan untuk dimusnahkan. Justru dari penindasan atas yang lemah, benih perlawanan dan pembalasan sejarah akan bersemi. Alam mungkin membiarkan yang lemah runtuh dalam siklus biologisnya, tetapi peradaban akan selalu mencatat bahwa kejahatan—betapapun kuatnya ia hari ini—sedang menggali kuburnya sendiri lewat penyesalan abadi. (Timika, 25082026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *