Berguru kepada Kang Di

blank

POJOK

 

Berguru kepada Kang Di

​Oleh: Mustaqiem Eska

 

 

“ … seorang petani garam tua sedang memperagakan pelajaran hidup yang amat mahal dan layak untuk dicontoh, bahwa diberi kekuatan oleh Allah untuk merasa ringan, disiplin, dan konsisten melangkah menuju ibadah di awal waktu adalah karunia eksklusif yang tidak bisa dibeli dengan materi atau retorika.”

 

 

​(pdlFile.com) Layaknya uswatun khasanah, keteladanan yang paling kokoh di atas muka bumi ini jarang sekali ditemukan di atas mimbar, entertaint tv dengan acara siraman rukhani, melainkan kerap tertanam di sudut diamnya mushala kampung yang nyaris tak pernaah terbaca.

Di sana, hidup seorang lelaki bernama Kang Di—seorang petani tambak garam berusia di atas kepala enam, yang tubuhnya ditempa oleh sengatan terik matahari dan asinnya angin pesisir. Bagi sebagian warga kampung yang dihinggapi amnesia nurani, sosoknya mungkin dianggap biasa: sekadar tetangga tua dengan pakaian seadanya yang saban hari mondar-mandir menuju mushala.

Namun, dalam tatanan konsep cara beragama, Kang Di adalah wujud monumen keistiqamahan—sebuah keutuhan jiwa tanpa retakan yang mengajarkan kita bahwa kemampuan menjaga kedisiplinan ibadah di awal waktu sesungguhnya adalah keajaiban yang melampaui seribu karomah yang sesungguhnya.

​Tatalaku Kang Di dalam menghormati waktu adalah bentuk penghormatan tingkat tinggi yang anti lemah batin. Satu jam sebelum seruan Dzuhur mengetuk bumi, di saat kristal-kristal garam di tambaknya masih menyerap panas terik, ia telah memutus siklus kerjanya. Tanpa menunda, ia membersihkan raga dan jiwa, bersiap menjadi penyeru pertama bagi agungnya panggilan Ilahi.

Bagi Kang Di, cuaca dan musim hanyalah variabel fisik yang tak punya daya untuk membatalkan komitmen batin. Jangankan kemarau yang memanggang kulit, bahkan ketika hujan lebat mengguyur kampung dan jalanan menjadi berlumpur, langkah kakinya menuju mushala tak pernah surut. Ia memekandangkan azan dengan irama dan cengkok khasnya yang menembus keheningan, lalu berdiri tegak menjadi imam—meski terkadang, dalam kepungan hujan deras itu, hanya ada raga dan malaikat yang bermakmum di belakangnya. Begitu pula saat Subuh menyapa, ketika sebagian besar manusia masih pingsan intelektual di balik selimut empuknya, suara Kang Di sudah lebih dulu membelah kegelapan, mengabarkan bahwa salat jauh lebih mulia daripada tidurnya jiwa-jiwa yang lalai.

​Betapa banyak di antara kita yang pandai berdebat tentang beragama, sibuk berburu ijazah spiritual dan keajaiban-keajaiban karomah yang spektakuler, namun gagal total dalam uji ketepatan waktu yang paling dasar. Kita mengaku rindu kepada Sang Maha Pengatur, tetapi ketika azan berkumandang, kita bersikap ibarat ‘hubbuddunya’  yang terus menawar selang waktu demi merampungkan urusan-urusan duniawi yang kikir. Kita mengagumi kehebatan orang-orang besar di kejauhan, padahal tepat di samping rumah kita, seorang petani garam tua sedang memperagakan pelajaran hidup yang amat mahal dan layak untuk dicontoh, bahwa diberi kekuatan oleh Allah untuk merasa ringan, disiplin, dan konsisten melangkah menuju ibadah di awal waktu adalah karunia eksklusif yang tidak bisa dibeli dengan materi atau retorika.

​Ya, sosok Kang Di teramaat pantas untuk dijadikan guru keteladanan. Keistiqamahan Kang Di dalam mengumandangkan azan dan mengimami salat sejak saya kecil hingga hari ini adalah bukti sah dari ajaran Sunnatullah: bahwa kemuliaan sejati tidak diukur dari seberapa riuh tepuk tangan kerumunan yang mengagumimu, melainkan dari seberapa nyata engkau menepati janjimu di hadapan Pencipta.

 

Kang Di tidak membutuhkan pengakuan dari manuskrip sejarah atau pujian warga kampung. Kang Di telah memahatkan namanya di langit sebagai hamba yang sanggup menata habit ibadahnya tanpa goyah oleh cuaca dan usia. Maka, di hadapan monumen keistiqamahan seorang petani garam ini, cukuplah kita menundukkan ke-aku-an, membasuh wajah dengan air wudu, dan belajar berdiri tegak memenuhi panggilan-Nya tepat di awal waktu sebelum takdir menutup kesempatan kita selamanya. (Timika, 01102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *