POJOK
Memelihara Ayam
Oleh : Mustaqiem Eska
“… Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar kepadanya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duber. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah menunaikan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Attalaq : 2-3)
(pdlFile.com) Kalau dipikir-pikir pakai logika sederhana, pekarangan rumah yang diisi beberapa ekor ayam itu bukan cuma urusan bau kotoran atau persediaan telur dadar di dapur. Di sana, tepat di atas tanah tempat ayam-ayam itu mengais sampah, sebenarnya sedang ada “kuliah fisika kehidupan” yang dipraktikkan tanpa perlu rumus rumit di atas papan tulis.
Coba perhatikan ayam jantan di pagi hari. Begitu langit timur mulai terang sedikit saja—bahkan sebelum matahari benar-benar terbit—dia sudah langsung berkokok nyaring membelah udara dingin. Dia tidak pakai mikir: “Ini cuacanya mendung apa cerah ya? Nanti ada makanan tidak ya?” Tidak ada kalkulasi cemas. Jam biologisnya bekerja alami. Begitu pintu kandang dibuka, anak-anak ayam dan induknya langsung bergerak lincah, mematuk tanah, mengais cacing, dan mengolah apa saja yang ada menjadi energi untuk bertahan hidup.
Nah, manusia yang katanya makhluk paling berakal, paling canggih, dan punya kalkulator, justru sering kalah tenang dibanding sekawan ayam. Kita ini saban hari sering mengidap penyakit “stres prematur”— cemas berlebihan soal rezeki besok, lusa, atau sepuluh tahun lagi. Kita sibuk menimbun harta sampai melampaui kapasitas tempat simpan kita sendiri, tapi hati tetap merasa kurang dan sesak.
Sementara seekor ayam betina bisa duduk tenang mengerami telurnya selama 21 hari penuh. Dia tidak pernah gelisah sambil bertanya, “Ini telurku bakalan menetas jadi anak ayam atau malah busuk ya?” Dia cuma menjalankan tugasnya dengan tenang dan pasrah pada hukum alam yang sudah diatur oleh Allah Azza wa Jalla.
Ayam-ayam itu mengajarkan kita rumus hidup yang sangat renyah. Jemput rezeki dengan ikhtiar yang jujur, makan secukupnya, jangan kebanyakan gaya, dan kalau malam sudah tiba, ya tidur—istirahat. Tidak usah merusak pikiran dengan urusan-urusan yang belum terjadi.
Memelihara ayam itu adalah cara terbaik untuk menampar kesombongan otak kita. Bahwa hidup ini sebenarnya sangat sederhana kalau kita mau belajar pasrah dan percaya penuh pada Nya. (Timika, 05102026)





