POJOK
The possibility of impossibility
Oleh : Mustaqiem Eska
“Kalau kita mau menengok sejarah, hal-hal paling indah dalam hidup ini justru sering lahir dari rahim ketidakmungkinan.”
(pdlFile.com) Dalam urusan menghadapi masalah hidup, otak kita ini sering kali rasa berlari kencang. Kita hobi mengukur kepastian darialat ukur yang super sempit, yakni logika pribadi, pengalaman masa lalu, atau angka-angka di atas kertas.
Begitu hitung-hitungan di kepala ketemu hasil nol besar dan jalanan kelihatan buntu total, batin kita mendadak panik. Kita langsung mengibarkan bendera setengah tiang sambil mengeluh: “Sudah tidak mungkin lagi ini. Sudah tamat.”
Padahal, kalau kita mau sedikit menurunkan rpm otak dan tenang sejenak, ada satu hukum kehidupan yang sering bekerja di luar jangkauan logika kita, berupa ‘ruang kemungkinan di dalam ketidakmungkinan’ (the possibility of impossibility).
Ketika Otak Menemui Tembok Buntu
Penyakit manusia modern itu sebenarnya cuma satu: kita sering menyamakan keterbatasan otak sendiri dengan keterbatasan Kuasa Tuhan.
Saat diuji dengan masalah berat—entah itu urusan rezeki yang makin menghimpit, penyakit yang tak kunjung sembuh, atau impian besar yang mendadak patah di tengah jalan—otak kita langsung sibuk berhitung. Begitu rumus logika kita tidak menemukan jalan keluar, kita mengira Tuhan juga kehabisan cara.
Padahal, yang kita sebut “ga mungkin” itu sebenarnya cuma sebatas “otak kita belum sampai ke sana”. Bagi Sang Maha Pencipta, mengubah nasib atau membalikkan keadaan dalam sekejap mata itu perkara yang teramat sepele. Cukup bilang “Jadilah!”, maka detik itu juga semuanya bisa berubah seratus delapan puluh derajat.
Kalau kita mau menengok sejarah, hal-hal paling indah dalam hidup ini justru sering lahir dari rahim ketidakmungkinan.
Bisa bayangkan tidak, secara logika medis atau ilmu alam mana ada laut Merah bisa terbelah cuma gara-gara ditotok batang kayu? Mana ada kobaran api raksasa mendadak terasa adem dan tidak membakar kulit? Atau seorang ibu yang sudah sepuh dan divonis mandul mendadak bisa melahirkan anak?
Secara hitungan kertas pada zamannya, semua itu impossible—alias mustahil. Tapi di situlah letak keajaibannya. Tuhan sering kali sengaja menutup semua pintu pertolongan manusia, justru supaya pas pertolongan-Nya datang, kita tidak punya celah lagi untuk menyombongkan diri dan bilang: “Ini semua gara-gara kehebatanku.”
Cara Menyikapi Jalan Buntu
Lalu, bagaimana caranya supaya batin kita tidak gampang stres saat ketemu tembok jalan buntu?
Otak Itu alat kerja, bukan Tuhan. Gunakan otak untuk berpikir dan berusaha semaksimal mungkin, tapi jangan biarkan otak membatasi kuasa Tuhan.
Jaga prasangka baik (husnudzon). Di saat semua pintu bumi terkunci rapat, ingat kalau pintu langit tidak pernah dipasang gembok. Tetaplah berdoa untuk hal-hal yang menurut hitungan manusia tidak mungkin, karena doa adalah satu-satunya energi yang sanggup menembus batas logika.
Dan soal cara dan waktu, biarkan Tuhan yang atur. Tugas kita cuma ngetok pintu ikhtiar dengan jujur dan konsisten. Soal lewat mana jalan keluarnya nanti—apakah lewat pintu depan atau celah ajaib yang tak pernah kita sangka—itu sudah bukan urusan kita lagi.
Alhasil, mempercayai the possibility of impossibility itu bukan berarti kita ngayal atau menunggu keajaiban jatuh dari langit sambil bermalas-malasan. Ini adalah bentuk kerendahan hati.
Ini adalah keberanian untuk tetap tersenyum di tengah kegelapan, karena kita tahu betul siapa yang pegang sakelar cahayanya?
Maka, jangan pernah lelah merawat harapan. Kalau hari ini kamu merasa lagi ada di ujung tanjakan yang paling terjal dan tidak ada lagi jalan buat melangkah, berhenti sejenak, helalah napas panjang, lalu bisikkan ke dalam dada: “Buat otakku ini memang tidak mungkin, tapi buat Allah Ta’ala tidak ada yang tidak mungkin.” (Timika, 16102026}

