POJOK-06
Dialektika Jalan Lurus
Oleh : Mustaqiem Eska
“Kelurusan yang tangguh adalah kelurusan yang paham betapa licinnya tebing dosa, namun memilih untuk tetap menancapkan kakinya dengan kukuh.”
(pdlFile com) Kita sering membayangkan jalan lurus sebagai segaris bentangan yang sunyi dari lekukan, sebuah lintasan polos tanpa godaan belokan, dan bebas dari persimpangan yang membingungkan. Dalam benak yang tergesa-gesa, kelurusan kerap disederhanakan sebagai ketiadaan konflik—seolah-olah hidup yang benar adalah hidup yang steril dari benturan. Namun, sejarah peradaban dan desir nurani manusia justru membisikkan hal yang sebaliknya: kelurusan bukanlah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma, melainkan hasil dari dialektika yang sengit dan tak kunjung usai.
Dalam setiap jejak langkah manusia, ada tesis kesucian yang bercita-cita menuju kebaikan, yang senantiasa dipertemukan dengan antitesis berupa godaan, kelemahan batin, serta riuhnya hasrat duniawi. Jalan lurus tidak pernah wujud dalam ruang hampa. Ia terus-menerus diuji oleh tikungan ketakutan, persimpangan kepentingan, dan kelelahan mental yang membujuk jiwa untuk menyerah pada kompromi yang murahan. Tanpa adanya benturan antara yang ideal dan yang pragmatis, kelurusan hanya akan menjadi jargon kosong yang kehilangan bobot spiritualnya.
Sintesis dari perkelahian batin itulah yang kemudian kita sebut sebagai kesetiaan pada garis lurus. Kelurusan yang tangguh adalah kelurusan yang paham betapa licinnya tebing dosa, namun memilih untuk tetap menancapkan kakinya dengan kukuh. Ia adalah kesadaran teguh seorang musafir yang mengerti ada ribuan cabang jalan yang menawarkan kemudahan egoistik, tetapi ia secara sadar memalingkan wajah demi mempertahankan martabat kemanusiaannya.
Maka, meminta diteguhkan di atas jalan yang lurus—sebagaimana doa yang saban hari kita ulang di dalam sembahyang—bukanlah permintaan agar hidup kita dibebaskan dari cobaan. Doa itu adalah permohonan agar di tengah pusaran dialektika yang mengombang-ambingkan rasa, kita diberi ketajaman nurani untuk terus mengenali kompas kebenaran.
Sebab tentunya, jalan lurus bukanlah garis mati yang diam menanti dilalui, melainkan sebuah ikhtiar aktif untuk terus memilih bangkit setiap kali melangkah, dan menolak untuk berbelok di hadapan ketidakadilan. (Timika, 2608206)