Berdakwah Jangan Menghabisi

blank

POJOK

 

Berdakwah Jangan Menghabisi

Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Untuk memperbaiki manusia itu butuh proses, tidak bisa langsung dihabisi. Jika tugas kenabian hanya untuk menghabisi keburukan, tentu bermitra dengan Izrail jauh lebih efektif ketimbang bermitra dengan Jibril. -Gus Baha-

 

 

(pdlFile com)  Pesan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengejawantahkan alegori epistemologis yang menohok tentang hakikat artikulasi kebaikan dan rekayasa jiwa manusia. Gagasan bahwa penumpasan keburukan tidak dilakukan secara instan—dengan membandingkan peran malaikat Jibril dan malaikat Izrail—bukan sekadar analogi jenaka, melainkan sebuah kritik  terhadap gerakan destruktif yang kerap mengatasnamakan perbaikan moral.

 

​Secara ontologi kenabian, tujuan utama risalah keagamaan bukanlah pemusnahan (annihilation), melainkan pemulihan (restoration). Gus Baha menegaskan bahwa manusia adalah entitas dinamis yang terikat oleh dimensi waktu dan proses bertahap (tadarruj).

 

​Berdakwaklah dengan arif, dan faham letak tempat, situasi dan budaya. Tidak sama antara cara berdakwah di masjid yang -notabene- semua yang datang sudah pasti beriman, dengan tempat yang masih kafir dan bahkan terpatri cara beragama yang (masih) berbeda. Bagaimanapun,  pemahaman atas keburukan pada diri manusia sering kali merupakan hasil dari keterasingan jiwa dan kebodohan, bukan esensi permanen yang mutlak. Mengirim Jibril berarti mengutus ilmu, wahyu, dialog, dan kelembutan untuk menuntun akal secara bertahap. Sebaliknya, bermitra dengan Izrail adalah jalan pintas nihilistik: mencabut nyawa untuk menghentikan dosa.

 

Bayangkan, memusnahkan pelaku keburukan demi menghapus keburukan adalah peninggian ego yang dangkal, sebab itu membunuh potensi pertobatan yang menjadi inti ketaatan manusia.

 

​Dari kacamata kemaslahatan, pendekatan berbasis proses, menjamin keberlanjutan tatanan sosial. Jika setiap maksiat direspons dengan eliminasi seketika, ruang bagi pengampunan, pembelajaran, dan integrasi sosial akan hancur. Maslahah terbesar dari metode Jibril adalah terpeliharanya jiwa (hifz an-nafs) sekaligus perbaikan akal (hifz al-‘aql).

 

​Dakwah dan pendidikan adalah seni rekayasa psikologis. Proses tadarruj membutuhkan teknik-teknik bertahap. Layaknya akomodasi gradual. Dimulai dengan mengakui kelemahan fase awal manusia sebelum menuntunnya ke standar moral yang lebih tinggi. ​Juga edukasi dialogis, yang mana menggunakan wahyu dan argumen rasional (Jibril) untuk mengurai akar masalah, bukan sekadar memotong gejala di permukaan. Begitupun ​ruang transformasi, dengan cara memberikan porsi waktu bagi nurani untuk berproses dari kegelapan menuju cahaya.

 

​Menghabisi keburukan dengan cara menyakiti dan menghabisi manusianya adalah kegagalan teknik pedagogi. Peradaban tidak dibangun di atas tumpukan mayat para pendosa, melainkan di atas barisan jiwa-jiwa yang berhasil bertobat. Bermitra dengan Jibril adalah simbol dari kesabaran intelektual, sedangkan bermitra dengan Izrail adalah keputusasaan spiritual.

 

Di sini Gus Baha sungguh sangat arif dalam berdakwah dan perlu dicontoh, beliau mengingatkan kita bahwa tugas kemanusiaan adalah merawat proses, bukan memaksakan hasil akhir secara brutal. (Timika, 19082026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *