POJOK
Memandang Wajah Ibu
Oleh Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) Ada tempat di mana waktu seolah melambat dan segala bising dunia mendadak hening. Saat mata kita bertatapan dengan garis-garis kerutan di paras seorang ibu. Di wajah yang tenang itu, waktu tidak hanya mencatat rentetan tahun, melainkan menorehkan jejak-jejak pengorbanan yang tak pernah minta dibayar. Setiap lipatan di pinggir matanya adalah prasasti dari ribuan malam yang ia pertukarkan dengan kesunyian, demi memastikan lelap kita tak terganggu oleh dinginnya gerimis atau pengapnya panas kemarau.
Memandang wajah ibu adalah sebuah ritus penyucian jiwa. Di sana, kita tidak sedang melihat sekadar paras yang mulai meredup dimakan usia, melainkan menatap muara dari sungai kesabaran yang tak pernah kering. Dari sepasang matanya yang teduh, pernah mengalir telaga doa yang menyelamatkan kita dari kepungan bahaya yang bahkan tak sempat kita sadari. Senyumnya yang bersahaja adalah jeda yang paling menentramkan di tengah gelora hidup yang sering kali menuntut dan melelahkan.
Dalam keheningan tatap itu, rasa syukur bertumbuh bukan sebagai kalimat yang diucapkan oleh bibir, melainkan sebagai getaran batin yang merambat pelan menembus dada. Betapa murahnya rahmat Sang Pencipta yang masih berkenan meminjamkan kita sesosok malaikat tanpa sayap di bumi—seorang perempuan yang rahimnya pernah menjadi rumah pertama kita, dan jiwanya senantiasa menjadi tempat kita pulang dari segala pengembaraan.
Maka, setiap kali tatapan itu beradu, bibir ini kerap kelu untuk merangkai kata. Yang tersisa hanyalah bisikan doa yang membumbung tinggi melintasi langit: “Ya Allah, jika rizki kebahagiaan di dunia ini harus dibagi, curahkanlah bagian terindahnya untuk ibu. Teduhkanlah sisa langkahnya sebagaimana ia pernah meneduhkan masa kecilku, dan peliharalah senyum itu agar tak pernah padam oleh duka.”
Ya, di bawah pendar redup wajah ibulah kita memahami hakikat cinta yang sejati. Sebuah pengabdian yang memberi tanpa pernah menghitung kembalian, dan sebuah doa yang terus mengalir bahkan saat dunia telah lupa cara berterima kasih. (Timika, 02092026)