Cara Menerjemahkan Luka

blank

POJOK

 

Cara Menerjemahkan Luka

​Oleh: Mustaqiem Eska

 

 

“ … sebab pereda nyeri yang paling hakiki hanyalah kepasrahan pada takdir-Nya.”

 

 

​(pdlFile.com) Luka dan perihnya kesedihan yang menyayat dada manusia bukanlah musibah yang hadir tanpa alasan. Sebuah cara Tuhan membersihkan selaput kotoran ego dari dinding qalbu. Namun, terkadang kita tidak sabar terhadap ujian. Lantas menyalahkan jalan hidup. Padahal luka sejatinya bisa diterjemahkan sebagai ketrampilan mengalirkan seluruh rasa sakit ke dalam ceruk spiritual yang paling dalam, yang dinamakan keikhlasan—sebuah muara hening tempat segala duka dilebur menjadi penyerahan diri yang utuh.

​Mengunci kesedihan di dalam bilik keikhlasan adalah proses penyucian batin agar manusia tidak jatuh menjadi hamba yang mendikte takdir. Ketika rasa sakit disembunyikan dalam keheningan wudu dan doa-doa sunyi di sepertiga malam, ia tidak lagi membusuk menjadi dendam atau keputusasaan, melainkan bertransformasi menjadi cahaya pencerahan yang melipat jarak antara hamba dan Rabb-nya. Sama halnya ketika mata batin kita diuji oleh cacat atau aib yang menyayat dari saudara sesama manusia.

Dalam tatanan kemanusiaan yang berlandaskan nurani, tugas kita bukanlah bertindak sebagai penebar aib, melainkan menjadi penutup ‘aurat’ yang rapat. Menutupi aib saudara adalah cermin ketakwaan. Wujud kesadaran spiritual bahwa kita semua adalah makhluk rapuh yang hanya terlihat mulia karena Allah masih bersudi menutupi cela kita.

​Betapa miskinnya jiwa manusia yang merasa suci saat berhasil menguliti kepingan luka dan kesalahan orang lain. Kita berlagak ibarat hakim takdir yang memegang kunci surga dan neraka, padahal di dalam rongga dada kita sendiri bertumpuk retakan noda yang belum sempat dibersihkan. Menerjemahkan luka dengan pendekatan Ilahiah berarti mematikan desakan lisan untuk mengeluh, seraya menyadari bahwa tidak ada satu pun tarikan napas penderitaan yang luput dari pengawasan-Nya. Kita tidak perlu berharap atas keadilan atau pembalasan dari penghuni bumi. Jangan dendam.  Biarkan seluruh luka itu terawat di dalam keheningan zikrullah, sebab pereda nyeri yang paling hakiki hanyalah kepasrahan pada takdir-Nya.

​Karena hakikatnya, seluruh perjalanan rasa—baik berupa sembilu luka maupun lapangnya nikmat—sesungguhnya sedang berjalan melingkar menuju titik asal penciptaan. Kebaikan yang kita jaga saat menutupi cacat saudara, serta keteguhan jiwa saat menyimpan pedihnya duka di dalam tabung keikhlasan, tidak akan pernah lenyap ditelan waktu. Bahkan itu adalah simpanan gaib yang akan berpulang kepadNya, sebagaimana firman dan ketetapan-Nya bahwa kepada-Nyalah segala urusan dan kebaikan akan dikembalikan (wa ilallāhi turja‘ul-umūr).

Maka, bungkuslah lukamu dengan kebeningan tawakal, balutlah aib saudaramu dengan kain kerahiman, dan biarkan qalbun salim menjadi kompas tunggal yang menuntunmu pulang ke pangkuan Sang Maha Penyayang. (Timika, 02092026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *