Pati Mentality

Foto : Diambil dari Web. Jawa Pos.Com oleh Ryandi Zahdomo.

POJOK

 

Pati Mentality

Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Jika ada hal yang mengganjal, orang Pati akan memilih bicara to the point, menghantam langsung ke akar kehidupan tanpa harus membungkusnya dengan senyum kepalsuan.”

 

(pdlFile.com) ​Ada ungkapan lama yang sering kali menyederhanakan cara pandang kita terhadap orang Jawa: halus, bersayap, dan sarat basa-basi. Namun, jika Anda melangkah ke pesisir utara, melintasi jalanan terjal yang membelah Bumi Mina Tani, Anda akan menemukan sebuah penafsiran yang sama sekali berbeda. Di sana hidup apa yang layak disebut sebagai Pati Mentality—sebuah karakter orang Jawa yang enggan bersikap ewuh pekewuh di hadapan ketidakadilan.

​Orang Pati tidak dibesarkan dalam langgam kebudayaan yang mengagungkan krama inggil penuh siloka layaknya tradisi Solo atau Jogja. Mereka tidak menyukai retorika yang berbelit-belit. Jika ada hal yang mengganjal, orang Pati akan memilih bicara to the point, menghantam langsung ke akar kehidupan tanpa harus membungkusnya dengan senyum kepalsuan. Karakter ini lahir dari rahim tanah pesisir yang keras; sebuah ekosistem yang membentuk manusianya untuk bersikap jujur, terbuka, dan tangguh. Mereka bisa sangat peduli dan hangat sebagai saudara, namun mereka diharamkan oleh martabatnya untuk menjadi seorang penjilat.

​Prinsip hidup orang Pati sederhana namun mengakar kuat; yakni sekali kepercayaan diberikan, mereka akan merawatnya dengan kasih sayang yang tulus. Namun, jangan pernah mencoba mengkhianati nurani mereka. Jika garis batas kejujuran itu dilanggar, karakter penyayang itu akan bertransformasi menjadi perlawanan sengit—sebuah keberanian mati-matian yang akan dipertahankan hingga titik darah penghabisan.

​Refleksi atas Pati Mentality ini memancar terang dalam jejak langkah perjuangan Aliansi Masyarakat Pati Bergerak (AMPB). Ketika suara rakyat menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset dan penegakan hukuman mati bagi koruptor—dua hal yang terus terulur dan tersendat di gedung DPR RI—mas Botok, mas Teguh, bersama barisan rakyat Pati berdiri di garis depan. Mereka tidak datang membawa bahasa diplomasi yang manis atau kompromi di balik pintu tertutup. Mereka hadir membawa kelurusan rasa, menyuarakan amarah publik dengan lugas, berani, dan tanpa rasa gentar.

​Di tengah zaman yang penuh dengan kepura-puraan dan kompromi politik yang melunakkan ketegasan, gerakan AMPB adalah cermin jernih dari Pati Mentality. Ia menjadi bukti nyata bahwa di tanah Jawa, masih ada anak-anak bangsa yang memilih untuk berdiri tegak, memelihara kejujuran yang menancap ke bumi, dan melantangkan kebenaran tanpa takut kehilangan apa pun. (Timika, 24082026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *