POJOK
Awas, Togog Modern !
Oleh : Mustaqiem Eska
“Sosok-sosok berpikiran Togog modern paham betul sifat mendasar dari jelata yang lelah, dimana emosi masyarakat adalah bahan bakar yang amat mudah meledak. Cukup lempar satu pemicu berbentuk isu sentimental—baik suku, agama, maupun ketakutan kolektif—maka kompor itu akan menyala hebat, membakar benteng nalar, dan melahap sisa-sisa persaudaraan.”
(pdlFile.com) Dalam literasi pewayangan, Togog bukanlah ksatria yang menunggang kuda putih dengan pedang berkilat, bukan pula raja yang memegang tampuk kekuasaan di atas singgasana emas. Togog adalah pewayangan yang dikutuk oleh nasib untuk berada di lingkar luar kebaikan. Ia mengabdi kepada para raksasa, raja-raja yang rakus, dan pimpinan yang hatinya digerogoti ambisi murahan. Togog tahu persis betapa culasnya sang majikan, namun tugas historisnya amat getir—ia hadir bukan untuk menghentikan kejahatan, melainkan menyaksikan kehancurannya dari dekat, sembari sesekali memberi nasihat yang pasti diabaikan.
Namun, seiring waktu, Togog tampak mengalami metamorfosis yang akut. Sosok Togog tak lagi sekadar menjadi abdi yang pasrah memendam duka di balik wajah penyok dan mulut lebarnya. Di tengah gelanggang politik dan riuhnya media sosial, sosok Togog menjelma operator pembawa kompor konflik.
Kompor konflik tak pernah dinyalakan dengan kayu bakar kebenaran, tapi dihidupkan dengan minyak tanah fitnah, godaan prasangka, dan percikan narasi kebencian yang ditiupkan secara terencana. Sosok-sosok berpikiran Togog modern paham betul sifat mendasar dari jelata yang lelah, dimana emosi masyarakat adalah bahan bakar yang amat mudah meledak. Cukup lempar satu pemicu berbentuk isu sentimental—baik suku, agama, maupun ketakutan kolektif—maka kompor itu akan menyala hebat, membakar benteng nalar, dan melahap sisa-sisa persaudaraan.
Para peniup kompor ini berteduh di balik bayang-bayang juragan rakus. Mereka menikmati kepulan asap yang membuat mata publik pedih dan pandangan menjadi kabur. Sebab dalam ruang yang pepat oleh asap konflik, keputusan-keputusan jahat bisa diselundupkan tanpa terendus, dan perampasan hak rakyat dapat berlangsung melompati pengawasan. Konflik dipelihara bukan karena ada ideologi besar yang diperjuangkan, melainkan karena perpecahan adalah komoditas yang paling menguntungkan bagi para oligarki yang bersembunyi di balik panggung.
Kelicikan fenomena ini mewujud nyata ketika gelombang aksi Aliansi Masyarakat Pati Bergerak (AMPB) bersama rakyat Indonesia yang dipandegani oleh Mas Botok, Mas Teguh dan Mas Panglima Ali bergemuruh menuntut dua pijakan keadilan yang benderang: pengesahan UU Perampasan Aset dan penegakan hukuman mati bagi para koruptor. Di saat orasi mulai mengakar pada substansi, dan desakan publik nyaris merobek ketegaran dinding kekuasaan, sosok Togog tiba-tiba muncul di penghujung aksi.
Sosok Togog “Tanda Kutip” ini tidak hadir di awal untuk ikut memikul keringat perjuangan, melainkan menyusup saat massa mulai letih. Dengan senyum picingan mata dan retorika beracunnya, Togog membelokkan fokus, memantik percikan kemarahan baru pada hal-hal sekunder, dan mencoba menyulut kerusuhan yang tak perlu. Kehadirannya di akhir aksi adalah taktik lama yang diperbarui. Ciri-cirinya Adalah merusak kesucian tuntutan rakyat, memberi alasan bagi aparat untuk menuding gerakan itu anarkis, dan pada akhirnya mengalihkan perhatian publik dari esensi perampasan aset sang perampok uang negara.
Tragedi terbesar dari skenario ini adalah ketika rakyat yang lugu rela menjadi kayu bakar dalam kompor yang dinyalakan oleh sosok-sosok Togog. Kita saling menghujat, merobek ikatan kemanusiaan, dan merasa sedang membela kebenaran paling mutlak, padahal kita hanya sedang menari di atas bara yang sengaja diumpan agar sang majikan tetap nyaman bertakhta.
Sudah saatnya kita menyadari tiupan angin dari kompor konflik ini. Jangan biarkan nurani kita menjadi kayu mati yang pasrah dilahap api adu domba. Menghadapi tipu daya Togog modern, senjata terbaik kita bukanlah amarah yang makin membara, melainkan ketenangan nalar dan keheningan nurani yang menolak untuk dibakar—seraya menjaga agar tuntutan atas keadilan dan hukuman bagi para perampok bangsa tidak pernah melenceng dari garisnya. (Timika, 28082026)





