Ketika Kebenaran Kehilangan Kepercayaan

POJOK

 

Ketika Kebenaran Kehilangan Kepercayaan

Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Membangun kembali kepercayaan yang runtuh jauh lebih sulit daripada mendirikan gedung-gedung pencakar langit.”

 

(pdlFile.com) ​Ada tragedi yang lebih menampar dari sekadar kekalahan, dan lebih kelam dari runtuhnya sebuah benteng, yaitu ketika kebenaran berdiri tegak di tengah gelanggang, namun tak ada lagi telinga yang sudi mendengarkannya. Kebenaran hadir lengkap dengan bukti-bukti yang sah, dibungkus angka-angka presisi, dan diucapkan oleh mulut-mulut bergelar. Namun, di hadapan publik yang telah kapok oleh kebohongan berseri, kebenaran itu menjelma suara kaleng kosong yang dilempar ke selokan—nyaring, namun dianggap angin lalu.

 

“​Kebenaran tidak mendadak mati, ia lebih dulu dilumpuhkan oleh kebangkrutan kepercayaan.”

 

​Dalam bentang peradaban, kepercayaan adalah fondasi tak kasatmata yang merekatkan kata dengan makna. Ketika fondasi itu digerogoti oleh janji-janji murahan, data yang dipelintir demi ambisi kekuasaan, serta retorika manis yang berulang kali mengkhianati kenyataan, maka bahasa kehilangan daya magisnya.

 

Kebenaran yang disampaikan oleh institusi yang culas atau pemimpin yang hipokrit tidak lagi diserap sebagai penuntun, melainkan dicurigai sebagai manipulasi jenis baru. Di titik ini, bukan lagi soal apa yang dikatakan, melainkan siapa yang mengucapkan dan demi kepentingan apa kata itu dirakit.

 

​Nietzsche pernah mengingatkan betapa terpukulnya seseorang bukan karena ia dibohongi, melainkan karena ia tak bisa lagi percaya. Ketika distrust—rasa tidak percaya—telah menjadi refleks kolektif sebuah masyarakat, kejujuran paling murni pun akan dicurigai memiliki motif terselubung. Ini adalah situasi parasitik yang membahayakan nurani publik. Rakyat tak lagi mampu membedakan mana emas dan mana sepuhan, bukan karena mereka buta, melainkan karena mata mereka terlalu sering disilaukan oleh kepalsuan yang menyamar sebagai kebaikan.

 

​Membangun kembali kepercayaan yang runtuh jauh lebih sulit daripada mendirikan gedung-gedung pencakar langit. Ia tidak bisa ditambal dengan slogan-slogan pencitraan yang dipercantik, atau kampanye hubungan masyarakat yang mahal. Kepercayaan hanya bisa dipulihkan ketika kata kembali menikah dengan perbuatan, ketika integritas melindas egoistik, dan ketika kejujuran berani dihadirkan meski harus menanggung malu dan kerugian.

 

​Sebab jika kebenaran terus-menerus kehilangan kepercayaan, masyarakat tidak sedang berjalan menuju pencerahan. Mereka sedang meraba-raba di dalam kegelapan nihilisme—sebuah ruang hampa di mana hukum rimba kembali berkuasa, dan sabda kebenaran hanya menjadi lelucon pahit di pinggir jalan. (Timika, 27082026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *