Importance of Right People in Life

POJOK

 

Importance of Right People in Life

​Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Orang yang benar-benar peduli, tidak bakal membiarkanmu berjalan menuju jurang cuma demi menyenangkan egomu.”

 

​(pdlFile.com) Sering kali kita merasa kalau kebahagiaan, kesuksesan, atau rasa stres yang kita alami itu murni gara-gara keputusan diri sendiri. Kita merasa berdiri sebagai sopir tunggal yang memegang penuh kemudi kehidupan. ​Padahal, ada satu hal yang pengaruhnya luar biasa besar dalam menentukan arah hidup kita, yakni siapa orang-orang yang kita izinkan masuk dan duduk di lingkaran terdekat kita.

​Menemukan orang yang tepat itu bukan cuma soal punya teman ngopi yang asyik atau kenalan buat tukar kartu nama. Ini urusan yang jauh lebih dalam, urusan menjaga ketenangan batin dan kesehatan jiwa.

​Secara tidak sadar, batin manusia itu ibarat spon yang gampang menyerap energi di sekitarnya. ​Kalau saban hari kamu berkumpul rapat sama orang-orang yang isinya cuma mengeluh, iri hati, senang membicarakan kejelekan orang lain, dan curigaan terus sama Tuhan, jangan kaget kalau batinmu makin lama makin terasa sesak dan reaktif. Tanpa sadar, kamu ikut-ikutan melihat dunia dengan kacamata yang keruh dan penuh keputusasaan.

​Sebaliknya, kalau kamu ada di dekat orang yang tepat—merekalah jiwa-jiwa yang adem, jujur, dan selalu berpikiran positif (husnudzon)—rasanya ibarat berteduh di bawah pohon rimbun pas cuaca lagi panas-panasnya.

​Ada perumpamaan klasik yang pas banget buat menggambarkan hal ini: berteman sama orang baik itu ibarat dekat sama penjual minyak wangi. Meskipun kita tidak beli, aroma harumnya bakal tetap nempel di baju kita. Tapi kalau berteman sama orang yang toxic, ibarat dekat sama tukang pandai besi, kalau bajumu tidak kena percikan api, minimal kamu bakal kena bau asapnya yang membikin perih mata dan dada.

 

​Siapa Sih “Orang yang Tepat” Itu?

​Di zaman yang serba pencitraan ini, kriteria “orang yang tepat” sering kali beda jauh dari selera kerumunan. ​Bukan yang selalu memberikan pujian, tapi yang berani menegur dengan hikmah. Orang yang benar-benar peduli, tidak bakal membiarkanmu berjalan menuju jurang cuma demi menyenangkan egomu. Dia adalah cermin yang jujur, mau memperlihatkan salahmu, tapi tangannya tetap siap membantumu merapikan kembali kesalahan itu.

​Bahkan orang yang tepat selalu mengingatkan pada kebaikan tanpa sok suci. Kehadirannya tidak membuatmu merasa dihakimi atau merasa kerdil. Justru melihat ketenangannya dan cara bicaranya yang santun, batinmu otomatis merasa adem dan ingat kembali pada Sang Maha Pencipta.

​Kadang-kadang, demi menjaga ketenangan jiwa, kita harus berani melakukan decluttering alias merapikan lingkaran pertemanan. ​Bukan berarti kita jadi sombong atau memutus tali silaturahmi, ya. Tapi ini soal menyaring mana hubungan yang beneran sehat, dan mana hubungan transaksional yang cuma menguras energi batin kita.

​Hidup ini terlalu singkat kalau cuma dihabiskan bersama orang-orang yang kerjaannya terus-terusan memadamkan semangat dan cahaya harapan di dalam dadamu.

​Kita tidak bisa memaksakan orang lain buat berubah. Tapi hukum alam itu selalu adil, bahwa orang baik bakal ditarik menuju lingkaran yang baik juga. Sudah waktunya, dunia ini diisi dengan menyebarkan energi positif ke sekeliling. ​Mulai dari diri sendiri dulu. (Timika, 21102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *