Mengingat-Nya, Bukan Menjauhi-Nya

POJOK

 

Mengingat-Nya, Bukan Menjauhi-Nya

​Oleh : Mustaqiem Eska

​

 

 

​“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)”

 

 

(pdlFile.com) Hidup ini sering kali menyeret kita ke dalam labirin yang rumit dan melelahkan. Di luar sana, dunia menawarkan seribu satu alasan untuk membuat kita sibuk, tergiur, terlena, hingga tanpa sadar melangkah semakin jauh dari pusat gravitasi jiwa. Kita berlari mengejar bayang-bayang fana, menimbun ambisi, lalu kebingungan sendiri saat batin mendadak terasa hampa dan kehilangan arah.

​Padahal, di saat-saat kita merasa paling tersesat atau paling lelah menanggung beban hidup, ada satu panggilan luhur yang tak pernah lelah mengetuk bilik qalbu, cari jalan untuk mengingat-Nya, bukan malah menjauhi-Nya. ​Sebab ke mana pun kaki melangkah, sejauh apa pun kita merantau di atas hamparan bumi ini, ujung-ujungnya kita semua adalah musafir yang pasti akan pulang. Dan sesungguhnya, hanya kepada Allah tempat segala pulang berlabuh.

​Pelarian yang Menyesatkan

​Ketika masalah datang menghantam—saat doa-doa terasa lama terjawab atau ketika dunia seolah bersekongkol meremukkan rencana kita—reaksi pertama manusia sering kali keliru. Ada kalanya kekecewaan membuat kita menarik diri, bersikap sinis pada takdir, atau lari menjauh dari sajadah karena merasa diabaikan. ​Padahal, menjauhi Tuhan saat hati sedang runyam itu ibarat seorang anak yang tersesat di tengah hutan belantara yang gelap, tapi malah sengaja melempar kompasnya ke jurang.

​Semakin jauh engkau melangkah menghindari-Nya demi mencari pelarian semu, semakin pekat kegelapan yang menyelimuti dadamu. ​Semakin engkau mengeraskan ego untuk tidak bersujud, semakin sesak pula rongga batinmu oleh rasa cemas yang tidak bertepi.

​Prioritas Utama Seorang Musafir

​Di panggung kehidupan yang singkat ini, manusia boleh saja sibuk merajut karier, membangun rumah megah, atau mengumpulkan pujian manusia. Tapi jika di penghujung hari seluruh lelah itu tidak mendekatkan kita pada ridho-Nya, maka semua pencapaian itu tak lebih dari sekadar tumpukan debu yang beterbangan ditiup angin.

​Menemukan langkah menuju ridho-Nya adalah agenda paling utama di atas bumi. Menyelipkan zikir di sela-sela kesibukan kerja, menjaga salat di awal waktu bukan sebagai beban kewajiban, tapi sebagai rindu untuk “bertemu”. ​Berbaik sangka (husnudzon) pada skenario-Nya, dengan cara menerima setiap kerumitan, tikaman keperihan, dan pintu yang tertutup dengan lapang dada, menyadari bahwa di balik setiap pahit ada didikan kasih sayang-Nya. Hingga membersihkan cermin hati, serupa melepaskan iri, dengki, dan dendam, agar qalbun salim kembali jernih memantulkan nur Ilahi.

​Orang yang hatinya selalu tersambung dengan Tuhan tidak akan pernah merasa sendirian di tengah keramaian, dan tidak akan pernah merasa ketakutan di tengah kesunyian. Sebab ia tahu, ada genggaman tak kasat mata yang selalu menuntun langkahnya pulang.

​Bayangkan kelak, ketika detik-detik akhir napas kita di dunia ini bergeser pelan, dan tirai kehidupan perlahan ditutup. Alangkah beruntungnya jiwa-jiwa yang semasa hidupnya tidak pernah lelah mencari jalan pulang kepada Tuhannya. ​Di saat itulah, sapaan terindah dari keabadian menyambut dengan kelembutan yang tak terperi, seperti yang dijanjikan dalam firman-Nya:

​”Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

​Betapa indahnya akhir sebuah perjalanan. Dipanggil pulang dalam keadaan mutmainnah—jiwa yang tenang, damai, dan tuntas dari segala gelisah duniawi.

​Semoga kelak, di ujung jalan panjang penantian ini, kita termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang diridhoi, yang pulang dengan senyuman paling damai di pelukan keabadian kasih sayang-Nya. Khusnul khotimah. (Timika, 20102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *