POJOK
Sepeda Jangkung itu Tidak Sedang Pamer Kesombongan
Oleh : Mustaqiem Eska
“Kita terbiasa mengadili keberanian orang lain hanya dari batas ketakutan dan kenyamanan diri kita sendiri.”
(pdlFile.com) Sebuah sepeda jangkung yang berdiri diam di hadapan palang pintu perlintasan Lempuyangan bukanlah sekadar atraksi jalanan yang tak berguna, melainkan sebuah pertunjukan gratis tentang perhitungan vektor keseimbangan dan moment of inertia. Di atas jalan, anak muda itu memilih tidak menurunkan kakinya—sebuah keputusan teknis yang mengharuskannya bertarung melawan hukum gravitasi dan perubahan titik berat (center of gravity) selama menit-menit yang melelahkan.
Di atas sepeda jangkung, anak muda itu berada dalam kondisi static equilibrium yang rapuh. Satu helai hembusan angin kencang atau sedikit saja tremor pada otot tungkainya bisa membatalkan seluruh perhitungan tersebut. Namun, di situlah letak kalkulasinya. Anak muda itu seperti sudah mengukur kapasitas mekanis raganya sendiri sebelum berani menaiki kerangka besi yang menjulang tinggi itu.
Saya bilang, “Keren.”
Video singkat yang diunggah lewat akun facebook Anto Susianto, Info Cegatan Jogya (ICJ), membuat ruang digital dan kolom komentar warga netizen terpancing dengan beragam. Pastinya unggahan itu viral, publik mendadak bertindak ibarat dewan juri yang sibuk membagikan vonis negative. Ada yang sebagian mengutuknya sebagai pencari perhatian yang membahayakan, sebagian menyindirnya sebagai beban yang merepotkan diri sendiri, dan sisanya memujinya sebagai simbol ketenangan batin.
Betapa seru melihat betapa ramainya cermin prasangka manusia. Kita terbiasa mengadili keberanian orang lain hanya dari batas ketakutan dan kenyamanan diri kita sendiri. Bagi mereka yang terbiasa hidup aman di atas tanah datar tanpa pernah belajar mengukur risiko, keberanian orang lain untuk memanjat tinggi dan berdiri seimbang akan selalu terlihat seperti tindakan konyol yang tak masuk akal.
Anak muda di atas sepeda jangkung itu sesungguhnya sedang memperagakan sebuah eksperimen eksistensial yang teramat mahal tepat di perlintasan Lempuyangan. Ketika dua rangkaian kereta api melintas lambat—sebuah simbolisasi dari pusaran masalah dan penantian takdir yang tak bisa diterobos—ia tidak panik melompat turun atau membenci keadaan. Anak muda itu memilih bertahan di atas ketinggiannya: tenang, fokus, dan menjaga kestabilan batin di tengah riuh kebisingan klakson dan derak besi rel.
Betapa banyak manusia yang mengaku “dewasa” dan matang di bawah sana, namun langsung kehilangan keseimbangan jiwa hanya karena terhalang oleh tumpukan masalah kecil yang melintas sesaat. Kita cepat goyah, sibuk menyalahkan situasi, dan dengan gampang melemparkan rasa frustrasi kita kepada orang lain di sekeliling kita.
Sudut pandang terbaik untuk mengeja fenomena ini adalah penghormatan atas keberanian mengambil risiko yang terukur. Anak muda itu tidak sedang pamer kesombongan. Anak muda itu sedang mendisiplinkan raganya dalam tatalaku kesabaran tingkat tinggi. Mengambil risiko di atas kerangka hidup yang jangkung bukanlah bentuk kebodohan, melainkan wujud kepasrahan yang terencana (tawakal ma’al asbab). Sebuah pemahaman kunci bahwa untuk berdiri tegak melampaui rata-rata kerumunan, seseorang harus siap menanggung potensi jatuh yang jauh lebih menyakitkan.
Dan di hadapan Ilahi Rabbi yang menguji keteguhan hamba-Nya, nilai seorang manusia tidak diukur dari seberapa rendah ia mencari posisi aman agar tak diejek tetangga, melainkan dari seberapa mahir dan tenangnya ia menjaga keseimbangan qalbu di saat kereta-kereta ujian hidup sedang melintas tepat di depan matanya. (Timika, 04102026)





