Lewat Jam Dua

blank

POJOK

 

Lewat Jam Dua

​Oleh: Mustaqiem Eska

 

 

“… Di jam ini, rasanya tak perlu pura-pura kuat, tak perlu berpura-pura sukses, dan tak perlu takut dinilai salah oleh manusia.”

 

 

​(pdlFile.com) Ada satu angka di dalam putaran jarum jam yang menyimpan getaran spiritual teramat magis: lewat jam dua dini hari.

​Di jam-jam biasa, jam dinding hanyalah alat ukur mekanis yang menghitung rutinitas kerja, tenggat waktu, dan ketergesaan manusia. Namun, begitu jarum melampaui angka dua pagi, suasana di sekeliling kita mendadak berganti wujud. Dunia yang tadinya riuh, penuh intrik, dan bising oleh syahwat pencitraan, tiba-tiba diheningkan secara paksa oleh alam raya.

​Di sinilah letak kedalaman hikmah spiritualnya. Lewat jam dua adalah batas linimasa ketika panggung topeng dunia meredup, dan hanya jiwa-jiwa yang terbangun yang diizinkan melangkah masuk ke dalam ruang rahasia-Nya.

​Ketika Kebisingan Topeng Runtuh

​Siang hari adalah panggung teater tempat manusia sibuk memakai “topeng ke-seribu”. Kita sibuk berdandan, menjaga imajinasi publik, berdebat tentang materi, dan memamerkan pencapaian semu. Otak kita sibuk berhitung, sementara batin kita sering kali terasing dan kelelahan. ​Tapi, begitu waktu merambat lewat jam dua. ​Topeng dunia lepas, tidak ada lagi penonton yang memuji, tidak ada tepuk tangan kerumunan, dan tidak ada layar media sosial yang menagih validasi.

​Semua angka menjadi nol. Pangkat, jabatan, isi rekening, dan gengsi sosial mendadak tak ada harganya di tengah dinginnya udara malam. ​Diri kembali telanjang di hadapan Rabb. Yang tersisa di dalam kamar sunyi itu hanyalah raga yang lemah dan qalbu yang jujur mengakui segala retakan luka serta dosa-dosanya.

​Malam di atas jam dua adalah tempat terbaik untuk melepas seluruh beban akting kehidupan. Di jam ini, rasanya tak perlu pura-pura kuat, tak perlu berpura-pura sukses, dan tak perlu takut dinilai salah oleh manusia.

​Dalam tatanan spiritual kosmik, jam dua hingga menjelang fajar adalah waktu dengan vibrasi terbersih. Bising gelombang pikiran jutaan manusia yang biasanya memenuhi udara sedang tertidur lelap. Udara menjadi sangat hening, dan bentangan langit terasa teramat dekat.

​Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengabarkan tentang keindahan momen ini—bahwa di sepertiga malam terakhir, Rabbul Izzaty turun menyapa hamba-Nya dengan kasih sayang yang tak bertepi: “Adakah yang memohon ampun agar Aku ampuni? Adakah yang meminta agar Aku beri?”

​Lewat jam dua adalah saat di mana doa tidak lagi butuh retorika manis atau susunan kata yang rumit. Cukup tetesan air mata yang jatuh di atas sajadah, desah napas kepasrahan, atau bisikan pelan di dalam dada: “Ya Allah, hamba-Mu ini lelah dan tidak tahu harus melangkah ke mana lagi.”

​Ajaibnya, bisikan pelan yang diucapkan lewat jam dua sering kali bergema jauh lebih nyaring menembus tirai langit dibanding teriakan keras di tengah keramaian siang. Ya,  saatnya menata kembali kepingan jiwa.  ​Bangun di atas jam dua bukan sekadar tentang ritual fisik meneteskan air wudhu dan mendirikan shalat Tahajud. Lebih dari itu, ia adalah bentuk restorasi jiwa (muhasabah).

​Jika malam ini engkau mendadak terbangun lewat jam dua—entah karena gelisah, diusik mimpi, atau memang disentuh oleh rasa rindu Ilahi—jangan tergesa-gesa meraih gadget atau memaksakan mata untuk memeluk bantal kembali. ​Bisa jadi, itu adalah undangan spesial dari langit. Sang Maha Pemilik Jiwa sedang ingin mendengarkan suaramu tanpa perantara.

​Singkaplah selimut, basuh wajah dengan dinginnya air wudhu, lalu hamparkan sajadah di sudut ruangan yang paling sunyi. Sapalah Allah -As-Shomad- dengan kepasrahan yang utuh. Sebab di balik keheningan lewat jam dua, ada kedamaian abadi dan kunci-kunci keajaiban takdir kebaikan yang sedang menunggu untuk diserahkan kepadamu. (Timika, 19102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *