Ibu yang Tertatih di Pangkuan Semesta

POJOK

 

Ibu yang Tertatih di Pangkuan Semesta

Oleh : Mustaqiem Eska

 

“Sebagai anak-anak yang dibesarkan oleh kebaikan tanpa batas, tidak ada kewajiban yang lebih mulia selain menghormati Ibu Pertiwi dengan menjaganya sebaik mungkin.”

 

 

(pdlFile.com) Bumi adalah ibu semesta, tempat Tuhan menitipkan kita untuk diasuh oleh rahimnya yang sungguh luas. Sejak napas pertama dihirup, tanah inilah yang setia menyangga tapak kaki kita yang ringkih, menyediakan air dari celah bebatuan untuk menawar dahaga, serta membiarkan anginnya membelai dada yang kerap sesak oleh ambisi. Kita tumbuh dari air susunya yang menjelma buah-buahan, dedaunan, dan beningnya telaga. Sebagai anak-anak yang dibesarkan oleh kebaikan tanpa batas, tidak ada kewajiban yang lebih mulia selain menghormati Ibu Pertiwi dengan menjaganya sebaik mungkin.

​Namun, alangkah seringnya anak-anak zaman ini menjelma pendurhaka yang lupa aroma rumah.

​Hutan—rambut hijau ibu yang ditenun jutaan tahun oleh waktu—dengan mudahnya dirabas dan dibakar demi segepok angka di atas kertas. Saat api membumbung tinggi, yang terbakar bukan sekadar pepohonan, melainkan napas sang ibu sendiri. Asap pekat yang membumbung ke langit adalah batuk panjang seorang ibu yang paru-parunya digerogoti kerakusan anak kandungnya. Kita sering lupa, ketika hutan direbut dan dikorbankan, kita sedang merobek gaun pelindung yang menjaga tanah ini dari bencana.

​Jangan membuat marah Ibu Pertiwi. Amarah seorang ibu yang terluka tidak pernah berbentuk teriakan kasar, melainkan rintihan yang sanggup mengguncang semesta. Ia membalas kerakusan kita lewat tanah yang longsor bagai air mata yang meluap, banjir yang menyapu permukiman, hutan nan terbakar dan musim yang tak lagi mau bersahabat. Ketika alam merajuk, tak ada benteng teknologi atau tumpukan harta yang sanggup menahan murkanya.

​Menjaga bumi bukanlah tugas rumit yang hanya milik para ahli. Kebaikan menjaganya adalah laku berbakti paling mendasar. Merawat sebatang pohon, memadamkan niat untuk merusak, dan memperlakukan alam dengan rasa hormat adalah cara kita mencium tangan sang ibu. Sebab percayalah, ke mana pun langkah kaki ini mengembara, ke dalam dekapan tanahnya jua kita akan pulang dan beristirahat secara abadi. (Timika, 23082026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *